"Saya sering antre panjang demi dapat BBM bersubsidi. Kalau benar Pertamax ini dioplos, saya rugi waktu dan uang. Kenapa saya harus antre kalau isinya sama saja?" ujarnya kecewa.
Sementara itu, Aji Setiawan (37), pedagang es krim keliling di Karawang, menyoroti dampak besar dari dugaan kecurangan ini terhadap pedagang kecil.
"Saya butuh kendaraan untuk jualan, dan kendaraan butuh BBM. Kalau harga naik dan kualitasnya turun, siapa yang kena dampaknya? Kami, rakyat kecil," kata Aji.
Baca Juga: Pertamina Bangun Sumur Bor Bagi 504 Keluarga Terdampak Erupsi Lewotobi di Desa Kobasoma Flores Timur
Ia juga mengkritik mental koruptor di Indonesia yang sudah mengakar.
"Mereka seenaknya saja bohongi kami. Kami kerja keras untuk sesuap nasi, mereka korupsi triliunan rupiah. Ini jelas bukan hanya merugikan negara, tapi juga menghancurkan kesejahteraan rakyat kecil," tegasnya.
Kasus BBM Oplosan, Bukti Buruknya Pengawasan?
Kasus dugaan pengoplosan Pertamax ini memunculkan pertanyaan besar tentang pengawasan distribusi BBM di Indonesia.
BPKN RI menegaskan, evaluasi mendalam terhadap sistem pengawasan dan distribusi BBM harus segera dilakukan agar praktik serupa tidak terulang.***