Data NTTHits.com, salah satu anggota polisi AKP. Arifin, tahun 2023 lalu dimutasi karena menangani kasus BBM Subsidi diduga milik salah satu oknum anggota Krimsus Polda NTT.
Arifin pernah menangkap pengepul ilegal, Ahmad Ansar alias Ahmad pada tahun lalu. Keterlibatan oknum anggota Krimsus dibeberkan Ahmad. Kemudian AKP. Arifin dipindahkan ke Polres Sumba Barat.
Ada juga oknum anggota Krimsus Polda NTT Willi Tansa Trisna yang dipindahkan ke Polres Sabu Raijua.
Anggota Krimsus Polda NTT, Wili Tansa Trisna yang dipindah amankan ke Polres Sabu Raijua ini, justru yang diduga melakukan penimbunan Bahan Bakar Minyak Subsidi jenis Solar ilegal di rumahnya.
"Ini kalau tidak diberantas, maka setiap tahun tetap ada anggota pemain minyak dan polisi lainnya akan merasa takut untuk mengungkap kasus minyak lantaran selalu dapat ancaman dipindahkan", ujar Sarah.
Artinya, Kapolri mau perintah seperti apapun kata Sarah, anggota tidak berani ungkap karena ancaman mutasi oleh pimpinan di Polda NTT.
Jelas bahwa permainan minyak dibekingi oknum anggota Krimsus ini sudah lama berlangsung . Apalagi lanjutnya, Jali dan Ahmad sudah teriak saat Penyelidik Reskrim Polresta Kupang lakukan pemeriksaan dan interogasi lapangan.
Ada pengakuan kerjasama yang sudah berlangsung selama empat tahun lebih, ada bagi dua hasil, biaya pengamanan lewat satu pintu yakni Tipidter Krimus Polda NTT.
Dalam kasus mafia BBM di tahun 2023 juga, ada keterlibatan orang yang sama yakni Algajali Munandar alias Jali dalam kasus mafia BBM. Dimana waktu itu, Jali diperiksa sebagai saksi dan keterlibatannya mengantar BBM Subsidi ke rumah oknum anggota Krimsus Polda NTT Wili Tansa Trisna yang digunakan sebagai tempat penampungan BBM ilegal.
"Sekarang Jali lagi terlibat. Ini basong piara penjahat semua", ungkap Sarah geram.
Sarah Lery Mboeik juga mempertanyakan alasan tidak diperiksanya pengepul dan penimbun BBM diduga ilegal, yakni Ahmad Ansar alias Ahmad dan Algajali Munandar alias Jali.
"Kapolda kasih pindah semua anggota sampai Polresta kosong, abis basong kasih diam saja ini kasus minyak ilegal? Itu Ahmad dan Jaki juga termasuk basong amankan. Apa kepentingan basong amankan penjahat. Periksa itu Ahmad dan Jali, cek nomor rekening Bank keduanya, itu dana semua diduga masuk di rekening Jali atau kita saja yang publish", tegas Sarah lagi.
Menjadi heran baginya, kasus yang sudah telanjang dibuka ke publik ini belum mendapat perhatian serius dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia.
"Mabes Polri belum turun juga? Kasus sudah sangat kuat dengan sejumlah fakta yang sangat telanjang dibeberkan. Permintaan kami, Kapolri bentuk Tim dari Mabes untuk turun menindaklanjuti, biar jelas. Kami tidak mau komproni ketika kami tahu ada panggilan dari Mabes atau siapapun ke pejabat -pejabat yang diduga terlibat. Apalagi panggilan secara pribadi, orang per orang. Ini ada jaringan besar, harusnya diusut secara transparan demi nama baik Institusi Polri.
Panggilan orang per orang justru peluang disitu untuk merekayasa kasus dan melobi untuk amankan semua pejabat Polda dan anggota yang diduga terlibat", tegas Sarah.