Pendekatan ini diharapkan menjadi alternatif dalam menyelesaikan kasus-kasus ringan di masyarakat. Tidak hanya memberi fokus pada hukuman pidana, namun juga membuka ruang untuk dialog, pembelajaran, dan perdamaian yang berkelanjutan.
Restoratif Justice di NT, Menuju Keadilan Inklusif
Penghentian penuntutan dalam kasus Marthinus Liu menandai perkara kedua yang diselesaikan melalui mekanisme Restoratif Justice di Kejari Timur Tengah Selatan pada tahun 2024.
Hingga Oktober ini, Kejaksaan Tinggi NTT telah menyelesaikan 33 perkara menggunakan pendekatan yang sama, menjadikan provinsi ini sebagai pelopor dalam mengedepankan keadilan humanis di Indonesia.
Melalui program ini, Kejaksaan Tinggi NTT terus berupaya membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya keadilan yang tidak hanya menghukum, tetapi juga menyembuhkan.***