Juga berkaitan dengan kuburan orangtua dari orang Limba yang dikuburkan dekat Gendang Pawu, diminta kepada orang Limba untuk mengakui secara tata cara adat Manggarai supaya kuburannya jangan dibongkar.
Baca Juga: Hotman Paris Hutapea Dilarikan ke Rumah Sakit
Saran yang ditawarkan tidak di indahkan kedua pihak, sehingga masalah itu diharapkan untuk diselesaikan secara elegan, melalui jalur hukum perdata di pengadilan.
Pihak kecamatam menyarankan agar selama proses sengketa berlangsung, kedua bela pihak tidak boleh beraktivitas diatas lahan, demi menjaga situasi tetap aman dan kondusif.
Pengakuan Tokoh Limba
Tokoh adat Gendang Limba, Agustinus Jabut, mengatakan, pihaknya tidak muluk-muluk mengkalim tanah itu. Namun pengkaliman berdasarkan histori nenek moyang yang masih dipegang hingga kini.
Mengacu pada historis, masyarakat Gendang Limba sudah menggarap lahan itu dalam kurun waktu yang sangat lama, dan telah menghasilkan kehidupan bagi mereka karena memanen berbagai jenis tanaman seperti padi.
"Padi yang dihasilkan dari kebun itu, telah menghidupi kami di gendang Limba ini. Kami sudah lama sekali menggarap lahan itu karena merupakan lahan peninggalan nenek moyang terdahulu," jelasnya.
Baca Juga: Olivia Newton John Meninggal Dunia, Pesan Haru John Easterling Bikin Sedih
Cerita yang sama juga dikemukakan pada pihak kecamatan yang disampaikan secara lisan dan diketik oleh pihak kecamatan pada kesempatan sebelumnya. Berikut sejarah dari pihak Gendang Limba yang didokumentasikan pihak kecamatan Satar Mese.
Pada akhir bulan April 2022 kami kaget, plihak dari Gendang Pawu masuk ke pekarangan kami. Yang kami tahu itu tidak ada masalah. Bahwa kampung Limba bukan kampung baru, tetapi sudah lama.
Kami sudah turunan yang ke-12. Nenek kami datang dari Minangkabau tinggal di Todo Koe dengan nama Rewung. Dari Todo Koe pindah ke Banga Dari dibagian selatan Limba. Silsilah keturunan kami Rewung-Nenggut-Tunang Kula,Nggaok, Rumpak dan ca ata peko (lumpuh).
Baca Juga: Wajah Baru Lucinta Luna Setelah Oplas, Netizen: Cakepan yang Kemarin
Karena terjadi sesuatu, akhirnya empo Kula ke Lelak, Nggaok ke Gara dan Rumpak ke Sita Torok Golo. Di Lelak empo Kula, le dalu Lelak teing tempat kaeng di Polor. Anak diha empo Kula adalah Raping dan Nggaluk, anak diha Raping hia Katu, anak diha Katu hia Jok, anak diha Jok hia Daduk agu Gantu.
Pada saat di Lelak le Dalu Lelak taki mendi ami ata Limba yang tinggal di Polor, denge le Gelarang Papang akhirnya ngo ise jemput kole ce'e le mai. Empo Jok yang kembali dari Lelak sementara tinggal di Papang kemudian ke Limba.