NTTHits.com, Ruteng – Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hirmat menyatakan dukungan penuh terhadap program prioritas Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam upaya menanggulangi kemiskinan ekstrem dan stunting.
Hal ini disampaikan dalam pertemuan dengan Gubernur NTT, Melki Laka Lena, saat kunjungan kerja di Kabupaten Manggarai.
Gubernur Melki menegaskan bahwa pemerintah provinsi berkomitmen menyambungkan berbagai program dari pusat hingga ke daerah, dengan fokus utama pada pengentasan stunting dan kemiskinan ekstrem.
Baca Juga: Gubernur NTT Resmikan Taman Kota Natas Labar Motangrua, Simbol Peradaban Baru Manggarai
"Masalah di NTT cukup banyak. Dua hal pokok yang harus diselesaikan adalah stunting dan kemiskinan ekstrem. Kami sudah bertemu dengan 25 kementerian dan lembaga yang berharap agar NTT bisa berubah," ujar Gubernur Melki.
Ia juga menyampaikan bahwa sektor pertanian, peternakan, dan perikanan menjadi titik fokus gerakan pembangunan ke depan. Pemprov NTT mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk gereja, siswa SMA, dan mahasiswa, untuk terlibat langsung dalam pengembangan pertanian, pengelolaan sawah, perikanan, dan pengolahan sumber daya alam seperti garam dan rumput laut.
"Kami sudah memiliki lahan dan alat, tapi belum bisa memanfaatkannya maksimal. Kami butuh keterlibatan semua pihak untuk turun ke sawah, kebun, bahkan ke laut," lanjut Melki.
Selain itu, ia menyoroti kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang mendominasi 75 persen kasus di lembaga pemasyarakatan di NTT. Pemerintah berharap dapat menangani isu ini secara kolaboratif.
Menanggapi hal itu, Uskup Ruteng menyatakan komitmennya untuk mendukung program-program pemerintah tersebut.
"Program yang disampaikan gubernur menjadi perhatian kami. Kami siap membantu sesuai kapasitas kami," ujar Uskup Ruteng.
Ekonom Keuskupan Agung Ruteng, Romo Rolin Mujur, turut menyampaikan langkah konkret yang telah direncanakan pihak keuskupan dalam mendukung program ketahanan pangan.
Baca Juga: Gubernur NTT: Beasiswa Hanya untuk Anak yang Benar-Benar Miskin
"Melalui Universitas Katolik (Unika), kami akan membuka peternakan ayam petelur di Manok dengan 5.000 ekor tahap awal, dan akan dikembangkan menjadi 10.000 ekor. Kami juga melihat peluang di daerah perbatasan Ngada-Matim untuk pengembangan jagung dan peternakan seluas 200 hektar," ungkap Romo Rolin.