Serangga hingga Ulat Sagu Masuk Menu MBG? Begini Penjelasan Badan Gizi Nasional

photo author
Yohanes Seo, NTT Hits
- Minggu, 26 Januari 2025 | 09:22 WIB
Serangga masuk dalam ide menu MBG (Instragram.com/badangizinasional.ri)
Serangga masuk dalam ide menu MBG (Instragram.com/badangizinasional.ri)

NTTHits.com, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan dengan misi ambisius: memastikan seluruh anak sekolah di Indonesia mendapatkan akses makanan bergizi.

Namun, yang membuat banyak orang terkejut adalah potensi menu yang bisa beragam, termasuk serangga hingga ulat sagu, sesuai dengan budaya dan sumber daya lokal di tiap daerah.

Dalam acara Rapimnas Pira Gerindra di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Sabtu, 25 Januari 2025, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa variasi menu MBG bergantung pada kebiasaan makan masyarakat setempat.

“Mungkin saja ada daerah yang terbiasa makan serangga, belalang, atau ulat sagu. Itu bisa menjadi bagian dari sumber protein dalam menu MBG,” ujar Dadan.

Baca Juga: PBNU Ingatkan Kehati-hatian Soal Usulan Dana Zakat untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Fokus pada Komposisi Gizi, Bukan Standar Menu Nasional

Meski ide ini menarik perhatian, Dadan menegaskan bahwa BGN tidak menetapkan standar menu nasional. Sebagai gantinya, BGN memberikan pedoman terkait komposisi gizi yang harus dipenuhi oleh setiap daerah.

“Keragaman pangan di Indonesia adalah kekayaan yang perlu diakomodasi. Jadi, menu MBG sepenuhnya disesuaikan dengan potensi lokal,” katanya.

Contohnya, daerah pesisir yang kaya ikan akan mengutamakan ikan sebagai sumber protein. Begitu pula dengan karbohidrat. Jika masyarakat lebih terbiasa makan jagung, singkong, atau pisang rebus daripada nasi, itu bisa menjadi pilihan utama dalam menu MBG di daerah tersebut.

Baca Juga: Makan Bergizi Gratis untuk Ibu Hamil Resmi Diluncurkan, Ini Perbedaannya dengan MBG Anak Sekolah

Potensi Lokal Jadi Kunci Keberhasilan MBG

Program ini dirancang untuk mengakomodasi keberagaman pangan lokal, bukan memaksakan pola makan seragam di seluruh Indonesia. Dadan mencontohkan, di Halmahera Barat, masyarakat terbiasa mengonsumsi singkong dan pisang rebus sebagai sumber karbohidrat utama.

“Keragaman pangan ini adalah kekuatan kita. Program MBG harus bisa memanfaatkan potensi daerah untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak,” jelasnya.

Baca Juga: 100 Hari Presiden Prabowo, Stabilitas Harga, Tindakan Tegas untuk Perusahaan Nakal, dan Makan Bergizi Gratis untuk Anak Indonesia

Target Besar MBG: 15 Juta Anak pada September 2025

Presiden Prabowo dalam sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden pada 22 Januari 2025 menetapkan target besar untuk program MBG.

“Dari Januari hingga April 2025, program ini ditargetkan menjangkau 3 juta anak. Pada September, kita berharap 15 juta anak Indonesia mendapatkan makanan bergizi. Dan akhir 2025, semua anak Indonesia harus sudah mendapatkan manfaat dari program ini,” tegas Presiden.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yohanes Seo

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X