Di Indonesia, seringkali para jurnalis mengangkat prinsip "the bad news is the good news" dan BNPB berharap hal itu tidak berlaku untuk informasi terkait bencana. Pentingnya membangun kapasitas jurnalis dalam manajemen risiko bencana tidak dapat dilebih-lebihkan.
Dengan membekali jurnalis dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan, mereka dapat melaporkan berita yang lebih edukatif, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mengurangi penyebaran informasi yang salah. Hal ini, pada gilirannya, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bencana dan untuk memungkinkan kesadaran manajemen bencana yang lebih baik di negara ini.
Memperdalam pemahaman konteks fenomena alam yang mengarah pada bencana juga sangat dibutuhkan oleh wartawan, misalnya terminologi teknis antara lahar atau lahar, apa itu daerah rawan bencana, status aktivitas vulkanik yang dibagi menjadi empat kategori, dan sebagainya.
Peran penting media untuk penanggulangan bencana di Indonesia sangat penting untuk mempengaruhi keputusan politik, mengubah perilaku dan menyelamatkan nyawa, media dapat secara strategis terlibat dalam mitigasi bencana, kesiapsiagaan, tanggap darurat bencana, dan pemulihan pasca bencana.
Pada konteks wilayah, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki beberapa potensi ancaman atau bahaya yang berujung bencana alam, seperti banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, abrasi, tanah longsor, siklon, likuefaksi, kekeringan, erupsi gunug api, gempa bumi dan tsunami.
Data bencana pada 2020, Provinsi NTT tercatat sebanyak 576 bencana dalam 10 tahun terakhir. Pada 2021 lalu, salah satu yang bencana besar yaitu adanya fenomena siklon Seroja yang berdampak luas di NTT.
Sementara itu, secara khusus tahun ini, BNPB bersama beberapa pihak menginisiasi strategi nasional komunikasi publik mengenai risiko bencana. Strategi nasional ini dapat menjadi pedoman bagi para pelaku untuk menyampaikan pesan atau informasi tentang kebencanaan.
Baca Juga: Kondisi TPA Alak Naik Status Tanggap Darurat Bahaya Kebakaran
Pada kesempatan ini, media juga berperan dalam memberikan wawasan dan masukan berharga dalam penyusunan strategi nasional. Sehubungan dengan kegiatan, BNPB dan Swiss Development Cooperation (SDC) menyelenggarakan workshop atau lokakarya untuk membahas konteks di atas kepada rekan rekan jurnalis di NTT.
Panitia workshop mengundang peserta yang ditargetkan dari asosiasi jurnalis dan perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Komunikasi dan Informatika di tingkat provinsi NTT. Adapun tujuan workshop ini antara lain Meningkatkan pengetahuan manajemen risiko bencana dari mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat hingga pemulihan terhadap berbagai bahaya, baik proses, dampak, karakteristik dan terminology teknis. Mengenalkan Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana, Meningkatkan kompetensi jurnalis dalam reportase kebencanaan, Memperkuat BNPB dan BPBD dalam membangun relasi dengan media, Mendapatkan masukan dari perspektif media untuk mendukung penyusunan dokumen strategi nasional komunikasi risiko. (*)