NTTHits.com, Ngada - Keberanian Oma Klara Mego melaporkan FRS (Pegawai Bank Pembangunan Daerah NTT) dan KR di Polres Ngada dengan LP/B/125/VIII/2022/NTT/Res.Ngada tanggal 18 Agustus 2022 terkait dugaan tindak pidana patut diapresiasi dan dikawal ketat.
Pasalnya, pelapor dan Keluarga bolik - balik ke Polres Ngada tapi Polres Ngada sangat tidak profesional dan perkaranya diesbatukan hingga pelapor meninggal dunia.
Miris dan sangat memprihatinkan Penyidik Polres Ngada yang tangani hingga Kapolresnya. Semakin diperparah Kapolresnya bermasalah dan terkesan kuat Polres Ngada melindungi oknum Terlapor pegawai Bank NTT.
Baca Juga: Gubernur Melki Laka Lena Resmi Jadi Nasabah Bank NTT, Ajak Warga Menabung untuk Bangun Daerah
Terpanggil untuk membongkar kejahatan di Polres Ngada dan terpenuhinya rasa keadilan oma Klara Mego maka Lembaga Hukum dan HAM PADMA INDONESIA (Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian Indonesia) bekerjasama dengan KOMPAK INDONESIA (Koalisi Masyarakat Pemberantasan Korupsi Indonesia) menyatakan,
Pertama, mendesak Kapolri untuk memerintahkan Kapolda NTT dan Kapolres Ngada, segera usut tuntas perkara tersebut.
" Perkara yang dilaporkan oma Klara Mego diduga diesbatukan Polres Ngada hingga oma meninggal dunia tanpa terpenuhinya rasa Keadilan", ungkap Ketua Kompak Indonesia, Gabriel Goa dalam rilis yang diterima NTTHits.com, Senin, 31 Maret 2025.
Kedua, mendesak Plt Dirut Bank NTT dan Pimpinan Bank NTT untuk memanggil dan memeriksa Terlapor.
"Plt Dirut Bank NTT dan Pimpinan Bank NTT agarr segera memanggil dan memeriksa oknum pegawai Bank NTT yang terlibat perkara pidana dengan oma Klara Mego yang sudah dilaporkan di Polres Ngada", desak Ketua Dewan Pembina Lembaga Hukum dan HAM Kompak Indonesia/Padma Indonesia.
Baca Juga: Kasus MTN Bank NTT, Kejati Sita Rp 108 Juta dari Eks Direktur PT. Bina Artha Sekuritas
Ketiga, mengajak Solidaritas Pers dan Pegiat Kemanusiaan di Ngada untuk kawal ketat kinerja Polres Ngada yang tidak profesional dan berintegritas, mengesbatukan perkara oma Klara Mego tanpa kepastian Hukum dan terpenuhinya rasa Keadilan hingga Pelapor meninggal dunia.
"Sangat menyedihkan dan mengangkangi HAM oma Klara Mego", pungkas Gabriel Goa. (*)