Kunjungi Puskesmas Lembor, Gubernur NTT Tawarkan Peluang Perawat Bekerja ke Luar Negeri

photo author
Yohanes Seo, NTT Hits
- Sabtu, 12 April 2025 | 21:00 WIB
Gubernur NTT saat foto bersama tenaga kesehatan di Puskesmas Lembor. (Jhon Seo)
Gubernur NTT saat foto bersama tenaga kesehatan di Puskesmas Lembor. (Jhon Seo)

NTTHits.com, Lembor – Dalam kunjungan kerjanya ke Puskesmas Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, menyampaikan program khusus bagi tenaga kesehatan, terutama perawat, yang ingin mengembangkan karier ke luar negeri secara resmi dan legal.

“Program ini ditujukan bagi perawat yang benar-benar siap, yang ingin meningkatkan karier dan bekerja ke luar negeri secara bersih dan legal,” ujar Gubernur Melki kepada tenaga kesehatan di lokasi.

Saat ini terdapat 53 perawat di Lembor yang menjadi potensi utama untuk program tersebut.

Baca Juga: Gubernur NTT Minta Kepala Sekolah Data Gedung Rusak untuk Diusulkan Perbaikan

Selain itu, Gubernur juga membuka kesempatan bagi dokter spesialis, seperti anestesi, kandungan, dan penyakit dalam, untuk mengajukan beasiswa melalui skema pemerintah daerah.

“Ajukan dulu lima orang. Pengajuan beasiswa bisa mendahului ujian, khususnya untuk kampus negeri,” katanya.

Cek Kesehatan Gratis dan Fokus Pencegahan Stunting

Baca Juga: Pantau Bendung Wae Ces, Gubernur NTT Ingin Jadikan Manggarai Lumbung Pangan Nasional

Menurut dia, pemeriksaan kesehatan gratis merupakan kue ultah dari Presiden Prabowo.

"Kue ulang tahun Pak Prabowo adalah pemeriksaan kesehatan gratis,” ujarnya sambil tersenyum.

Dalam rangka pelayanan kesehatan gratis, sebanyak 212 warga memanfaatkan layanan pemeriksaan di Puskesmas Lembor. Menurut Kepala Puskesmas, Fransisca Ratyati Babur, penyakit terbanyak yang terdeteksi adalah hipertensi, ISPA, dan diabetes.

Baca Juga: Uskup Ruteng Dukung Program Gubernur NTT Atasi Kemiskinan Ekstrem dan Stunting

Dia melaporkan bahwa hingga Maret, terdapat 86 kelahiran dari total 436 ibu hamil, tanpa ada kasus kematian ibu. Namun, angka kematian bayi tercatat sebanyak lima kasus. Adapun prevalensi stunting di wilayah ini mencapai 9,5 persen.

“Setiap anak stunting harus dikontrol dari pelaku utamanya: ibu dan ayahnya. Kami menurunkan tenaga gizi ke setiap desa dan melibatkan Posyandu serta satu warga di tiap rumah untuk memantau pola hidup guna mencegah stunting,” jelasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yohanes Seo

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X