TikTok Diblokir, RedNote Jadi Pelarian Pengguna di AS, Tapi Akankah Alami Nasib Serupa?

photo author
- Senin, 20 Januari 2025 | 19:46 WIB
Ilustrasi aplikasi RedNote dan TikTok yang digandrungi pengguna medsos di Amerika Serikat (AS). (Instagram.com/@rednote_us - Unsplash.com/@visuals)
Ilustrasi aplikasi RedNote dan TikTok yang digandrungi pengguna medsos di Amerika Serikat (AS). (Instagram.com/@rednote_us - Unsplash.com/@visuals)

NTTHits.com – Pemblokiran TikTok di Amerika Serikat (AS) yang resmi diberlakukan pada Minggu (19/1/2025) telah menciptakan gelombang "migrasi digital" para penggunanya ke aplikasi serupa, RedNote. Namun, aplikasi buatan China ini berpotensi menghadapi ancaman pemblokiran serupa di masa depan.

TikTok Dibungkam: Masalah Keamanan Nasional Jadi Alasan Utama

Putusan Mahkamah Agung AS yang menolak banding dari pihak TikTok mengukuhkan keputusan pemerintah untuk memblokir aplikasi tersebut. TikTok dinilai mengancam keamanan nasional AS karena praktik pengumpulan datanya yang dianggap memiliki hubungan dengan pemerintah China.

"Keamanan nasional ini didukung dengan baik terkait praktik pengumpulan data TikTok dan hubungan dengan musuh asing," bunyi pernyataan resmi Mahkamah Agung AS pada Jumat (17/1/2025).

Pemblokiran TikTok di AS menjadi tonggak penerapan Undang-Undang Protecting Americans from Foreign Adversary Controlled Applications Act yang ditandatangani Presiden Joe Biden pada April 2024. Aturan ini memungkinkan AS memblokir aplikasi yang dianggap ancaman atau memaksa mereka memisahkan operasinya dari kepemilikan asing.

Baca Juga: Resmi Diblokir di AS, TikTok Terancam Denda Rp81,9 Juta per Pengguna Jika Masih Beroperasi!

RedNote Jadi ‘Pelarian’ Pengguna TikTok AS

Seiring hilangnya TikTok, pengguna di AS berbondong-bondong beralih ke RedNote—dikenal juga sebagai Xiaohongshu di China—yang memadukan fitur ala Instagram dan Pinterest. Popularitas aplikasi ini melonjak drastis, menjadi aplikasi teratas di Apple Store AS hanya sehari setelah TikTok resmi diblokir.

Tagar #TikTokRefugee menjadi tren di RedNote, di mana pengguna AS berbagi pengalaman hidup mereka, dari foto hewan peliharaan hingga konten gaya hidup lainnya. Sebelumnya, RedNote dikenal sebagai tempat pengguna China berbagi konten kuliner, perjalanan, hingga pembelajaran bahasa Mandarin.

Pada Desember 2024, Xiaohongshu memiliki 300 juta pengguna aktif bulanan secara global. Popularitasnya di AS kini mencatatkan lonjakan baru, menjadikannya pusat perhatian pasca-pemblokiran TikTok.

Baca Juga: Trump Utus Perwakilan untuk Timur Tengah, Indonesia Dipertimbangkan Jadi Penampung Pengungsi Gaza

Akankah RedNote Mengalami Nasib Serupa?

Namun, seperti TikTok, RedNote tidak lepas dari ancaman. Dilansir dari CBS News, seorang pejabat AS menyebut aplikasi ini dapat menghadapi pemblokiran jika tidak memisahkan operasinya dari perusahaan induk di China.

"RedNote tampaknya juga termasuk dalam kategori aplikasi yang dapat terkena undang-undang ini. Mereka harus memisahkan operasinya di AS untuk menghindari pembatasan," ujar pejabat tersebut pada Senin (20/1/2025).

Baca Juga: Tiga Fakta Menarik Alex Pastoor: Juru Taktik Anyar Garuda yang Suka Belajar Bahasa Indonesia

Langkah RedNote untuk Bertahan di AS

Untuk menghindari pemblokiran, RedNote perlu mengambil langkah seperti mengalihkan kepemilikan atau memisahkan datanya dari pengaruh perusahaan induk di China. Jika tidak, nasib TikTok mungkin akan terulang.

Sementara itu, para pengguna di AS terus memanfaatkan RedNote sebagai pelarian sementara. Namun, ketergantungan pada aplikasi buatan China bisa menjadi isu yang lebih besar di tengah dinamika geopolitik AS-China.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yohanes Seo

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Komisi PBB Temukan Israel Lakukan Genosida di Jalur Gaza

Selasa, 16 September 2025 | 15:40 WIB
X