NTTHits.com, Kupang - Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Retnowati, ditantang lepas jabatan sebagai kadis, jika tidak mampu menurunkan kasus bayi dan Bawah Lima Tahun (Balita) yang mengalami stunting di Kota Kupang.
"Ini taruhan, kalau berani hingga Agustus tidak mencapai 9persen, saya minta berhenti jadi kadis kesehatan, harus berani begitu,"kata Pj.Wali KOta Kupang, George Hadjoh, Selasa, 4 April 2023.
Baca Juga: Bunda Julie dan Pemkot Hadirkan PMT Bagi Anak dan Ibu Kurang Gizi di Kota Kupang
Tantangan tersebut terlontar, karena hasil penurunan kasus stunting di kota Kupang hanya sebesar 2,5persen berada diposisi 19,03 persen atau sebanyak 4.543 bayi dan balita dari sebelumnya berada di rating 21,5persen atau sebanyak 5.497 bayi dan balita stunting.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, Retnowati mengatakan, stunting itu sendiri tidak dapat diintervensi, kecuali hanya pemberian protein tinggi hewani dari pihak keluarga sekaligus dipengaruhi oleh banyak aspek.
Baca Juga: Putuskan Rantai Lahiran Anak Stunting, Ketua PKK NTT Bantu Serbuk Marungga dan Konsumsi Makanan Gizi
"Dinkes kota sangat berupaya minta spesialis anak untuk mendampingi, melihat cluster- cluster stunting, apakah betul - betul stunting atau tidak," kata Kadinskes Kota Kupang, Retnowati.
Stunting menurut dia, merupakan masalah kurang gizi kronis dalam jangka panjang, akibat kurang gizi cukup lama yang menyebabkan gagal tumbuh pada bayi dan balita sehingga mempengaruhi perkembangan fisik maupun kognitif.
Baca Juga: Klassis Kota Kupang Timur Dianugerahi Penghargaan Sebagai Orangtua Asuh Balita Stunting
Anak bayi dan balita yang mengalami stunting memiliki kecerdasan intelektual atau Intelligence Quotient (IQ) dibawah rata -rata.
"Bayi dan balita yang mengalami stunting, apabila masa depan dilakukan pengukuran IQ maka dibawah rata rata,"tambah Retnowati.
Baca Juga: Pemkot Kupang Targetkan Kasus Stunting di Tahun 2024 Jadi 10 Persen
Status gizi anak dipengaruhi beberapa aspek yakni anak sering menderita infeksi atau penyakit kronis juga karena kurang asupan gizi sesuai dengan standar yang dibutuhkan.
Adapun pengaruh tidak langsung biasanya disebebkan karena pendidikan orangtua,ketahanan pangan, kurangnya pola makan beragam dan pola asuh anak yang menyebabkan bayi balita bisa mengalami gagal tumbuh. (*)