NTTHits.com, Jakarta - Kebijakan pembelajaran selama bulan Ramadan kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Meskipun pemerintah menegaskan bahwa pembelajaran Ramadan bukan berarti libur total, isu ini tetap menuai pro dan kontra.
Menariknya, tradisi “libur” saat Ramadan ternyata telah ada sejak era kolonial Hindia Belanda, dengan berbagai motif di baliknya.
"Bukan Libur Ramadan, Tapi Pembelajaran Ramadan"
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa kebijakan ini tidak berarti siswa benar-benar libur.
"Jangan pakai kata libur. Tidak ada pernyataan libur Ramadan, (adanya) pembelajaran di bulan Ramadan. Kata kuncinya adalah pembelajaran," ujar Mu'ti di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (17/1).
Menurutnya, pemerintah sedang merancang mekanisme pembelajaran Ramadan bersama kementerian terkait, seperti Kementerian Koordinator Bidang PMK, Kementerian Agama, dan Kementerian Dalam Negeri.
"Kami sudah bahas lintas kementerian. Ada kesepakatan bersama," tambahnya.
Baca Juga: Heboh ASN Poligami di Jakarta, Ini Penjelasan Pj Gubernur dan Respons Mendagri
Tradisi Libur Ramadan Sejak Zaman Penjajahan
Kebijakan belajar di rumah saat Ramadan sebenarnya telah ada sejak tahun 1930 di masa Hindia Belanda. Pemerintah kolonial saat itu meliburkan sekolah selama Ramadan untuk mendekati umat Islam sekaligus meredam potensi perlawanan.
Sejarawan Peter Carey mengungkapkan bahwa pendekatan ini memiliki motif politis, seperti terlihat dalam Perang Jawa. Pangeran Diponegoro pernah mengusulkan jeda perang selama Ramadan kepada Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Marcus de Kock sebagai penghormatan terhadap bulan suci.
Namun, niat baik itu dibarengi strategi licik. Pada 25 Maret 1830, hanya dua hari sebelum Idul Fitri, Diponegoro ditangkap, mengakhiri Perang Jawa.
Baca Juga: Banjir di Lampung: Satu Warga Hilang, Satu Tewas Akibat Sengatan Listrik