NTTHits.com, Rote Ndao – Silvi Saudale (12 tahun), salah seorang siswa kelas VI SD Kapadanon Desa Nusakdale Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao ketakutan setelah mengetahui plafon di ruang kelas ambruk. Untung ambruknya plafon gipsum senilai Rp720 juta khusus untuk kelas itu, terjadi setelah proses belajar mengajar di sekolah pada tanggal 23 Maret 2024 pukul 12.00 wita, sehingga tidak ada korban akibat ambruknya plafon kelas di sekolah tersebut.
Padahal gedung kelas yang ditempati Silvi bersama teman-teman itu, merupakan salah satu gedung baru yang dibangun pada 2021-2022 oleh Kementerian PUPR, menggunakan dana APBN dengan total senilai Rp43 milliar melalui Balai Prasarana Pemukiman (BPPW) Wilayah I NTT dalam proyek pekerjaan Rehabilitasi dan Renovasi Sarana Prasarana Sekolah se-kabupaten Rote Ndao tahun anggaran 2021/2022 atau lebih di kenal “Proyek Merah Putih”, karena seluruh bangunan tersebut finishing cat merah putih.
Walaupun plafonnya sudah ambruk, namun ruang kelas tersebut masih digunakan Silvi dan teman-teman untuk proses belajar mengajar, karena terbatasnya ruang kelas di sekolah tersebut. Namun kekawatiran Silvi masih berlanjut, karena masih terdapat sejumlah kabel yang bergelantungan dalam ruang kelas itu usai plafonnya ambruk. “Kami takut belajar kembali dalam kelas,” ujar Silvi Saudale kepada Tim Liputan Klub Jurnalis Investigasi (KJI), Selasa. 16 April 2024.
Tak hanya ruang kelas Silvi, ruang kelas V dengan siswa 13 orang juga mengalami kejadian serupa, yakni ambruknya plafon gipsum pada 11 Maret 2024, pukul 13.00 wita, namun beruntung tak ada siswa maupun guru, karena saat itu sekolah sedang libur Hari Raya Nyepi.
Orang tua Silvi yang mengetahui kejadian itu, khawatir dengan keselamatan anaknya. “Saya takut anak celaka, cemas saja, karena saat itu dengar informasi plafon runtuh, untung mereka tidak dalam kelas,” kata ibu Henni.
Kepala Sekolah (Kepsek) SD Kapadanon, Marlin Dalla, saat di temui di Rote, Selasa, 16 April 2024, membenarkan kejadian yang nyaris membawa petaka bagi siswa maupun pengajar. Saat kejadian, dirinya berada di lokasi, karena menempati mess sekolah atau rumah tinggal bagi guru daerah terpencil, yang juga merupakan bangunan baru senilai Rp 890 juta yang juga masuk dalam paket proyek pekerjaan Rehabilitasi dan Renovasi Sarana Prasarana Sekolah Se Kabupaten Rote Ndao yang juga dalam kondisi rusak parah. “Saat plafon runtuh, untung saja anak-anak tidak ada dalam kelas, kalau tidak pasti mati, karena jatuhnya secara utuh dan menyeluruh,” kata Marlin.
Kerusakan parah yang terlihat dari bangunan mess guru tersebut yakni, beberapa area tembok dari tampak depan, samping dan belakang mengalami retak, bagian area plafon bahkan roboh, area sudut teras depan mess mengalami keretakan bahkan meninggalkan lubang di tembok dan drainase depan mess guru tidak memiliki pembuangan akhir, dan pengerjaan tidak sempurna selesai dikerjakan.
Baca Juga: Jaksa Kembalikan Berkas Penyidikan Perkara Pemerkosaan Gadis 13 Tahun ke Polisi
Keluhan serupa juga dikemukakan Kepsek SD Inpres Onatali, Melyanthon Justensius Johannis. Katanya, sekolah yang berdiri di wilayah Feapopi RT/RW 6/4 Dusun Namodale Desa Onatali Kecamatan Rote Tengah itu banyak ditemukan kerusakan pada bangunan. Bahkan sejak awal dirinya menjadi salah satu kepsek yang menolak menandatangani Berita Acara (BA) saat serah terima yang dilaksanakan pada Jumat, 19 Agustus 2022 lalu
“Saya salah satu kepsek yang tidak mau tanda tangani berita acara saat serah terima waktu itu, karena sudah tanda tangan berarti setuju Final Hand Over (FHO), sementara ada yang belum beres,” kata Kepsek SD Inpres Onetali, Melyanthon Justensius Johannis, saat diwawancarai KJI, Selasa, 16 April 2024.
Melyanthon menyampaikan, ada sebanyak enam ruangan yang dibangun baru dalam proyek merah putih namun semua dalam kondisi rusak, bahkan saat berada di sekolah tersebut, tampak dua tukang sementara melakukan perbaikan pintu WC dan bak yang tidak dapat menampung air alias bocor.
“Bapak, ibu wartawan bisa lihat sendiri, pintu wc dan bak bocor sementara perbaiki, tukang sementara kerja, saya pakai dana BOS,” tambah Melyanthon sambil menunjukkan kondisi wc yang dalam perbaikan.
Bahkan lantainya juga, kata Melyanthon dilakukan perbaikan dengan memakai dana BOS. Mereka juga meminta sumbangan dari orangtua murid untuk perbaikan agar bisa digunakan meski masih terdapat sejumlah kerusakan yang belum dibenahi antara lain, tembok retak, pintu ruangan renggang tidak dapat di tutup atau di kunci, pagar, gapura, bak air dan tower tak dapat menampung air, saluran air tidak berfungsi menyebabkan air tergenang, jalan masuk/rabat rusak berat, instalasi listrik koslet dan cat tembok terkelupas.