NTTHits.com, Kupang - Don Ara Kian, seorang urban arsitektur berniat maju sebagai calon Walikota Kupang pada Pemilu Kepala daerah (Pilkada) 2024 mendatang.
"Ada keinginan menyumbangkan ilmu itu untuk Kota Kupang. Sebagai warga Kota Kupang yang tinggal cukup lama. Secara fisik pertumbuhan Kota Kupang sangat luar biasa. Namum kacamata kami, ada yang harus disiapkan secara baik, seperti perencanaan yang baik, jangan parsial. Seperti pemadam kebakaran," kata Don kepada wartawan, Jumat, 23 Desember 2022.
Selama ini, menurut dia, dirinya sudah terlibat dalam bebagai hal di Kota Kupang, namun sifatnya sangat parsial. Sangat berbeda, jika dirinya berada posisi pengambil kebijakan.
Dia mencontohkan teman dan senior dari ITS 10 November Surabaya yang menjadi Walikota, seperti Ridwan Kamil dan Risma Tri Harini.
Baca Juga: Kas Kota Kupang Kosong, Penjabat: Saya Tidak Tahu Menahu
"Belajar dari beberapa teman dan senior ini, maka keterlibatan kita sifatnya parsial. Beda jika kita pada poisisi seperti teman-teman. Cara berpikir arsitek dan urban," ujarnya.
Dia mengaku telah mendapat pertanyaan dari berbagai pihak terkait keinginan untuk maju sebagai calon Walikota. Untuk itu, dia sudah bertemu beberapa tokoh di NTT, seperti Piet Djami Rebo yang mendukungnya untuk maju.
"Isu ini terus bergulir. Karena ini, maka muncul pertanyaan dari banyak orang. Kalau pertanyaan niatan itu, pada dasarnya niatan itu ada. Niat maju sebagai calon Walikota. Kami ingin warna yang berbebad dari yang sudah ada," katanya.
Terkait partai pengusung, dia masih enggan berbicara soal partai yang akan mengusungnya. "Soal partai, nanti saja, biar berproses, karena partai pastinya masih fokus untuk menaikan eletabilitas pad Pileg mendatang," katanya.
Baca Juga: Kota Kupang Defisit Anggaran Rp75 Miliar, Utang Pihak Ketiga Belum Terbayar
Dilihat dari kacamata Urban Arsitektur, jelasnya, Kota Kupang dikenal sebagai water front city. atau kota dengan garis pantai terpanjang atau kota metro. "Sayangnya pembangunannya justru membelakangi pantai. Harusnya pantai menjadi teras atau bernanda Kota Kupang," katanya.
Terkait masalah air bersih di Kota Kupang, katanya, solusinya sudah ada, salah satunya spam kali Dendeng. "Itu salah satu upaya pendulangan air bersih," katanya.
Pembangunan Bendungan Kolhua, lanjut dia, juga menjadi salah satu solusi, karena kesesuaian tata ruang sudah pas, dan menjadi daerah konservasi. "Justru yang tidak pas itu, kuburan Fatukoa yang hasilkan ekoli. Penolakan kolhua, aspek sosialnya. Padahal pas sekali, jika dibangun bendungan di Kolhua," katanya. (*)