NTTHits.com, Jakarta – Program pendidikan vokasi, termasuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), menghadapi tekanan berat akibat pemangkasan anggaran besar-besaran dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Kondisi ini membuat berbagai pelatihan penting bagi siswa dan guru terancam terhenti.
Anggaran Dipangkas, Program Terhenti
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, mengungkapkan bahwa pemangkasan anggaran membuat sektor vokasi sangat tertekan. Dari total anggaran Ditjen Vokasi sebesar Rp1,927 triliun, kini hanya tersisa Rp1,408 triliun—berkurang lebih dari Rp519 miliar.
Yang paling memukul adalah program Pendidikan dan Pelatihan Vokasi, yang anggarannya anjlok drastis dari Rp1,195 triliun menjadi Rp132,4 miliar. Salah satu dampak terbesarnya adalah program SMK Pusat Keunggulan (SMK-PK), yang hanya mendapat Rp15 miliar, turun tajam dari Rp528 miliar tahun lalu.
Baca Juga: Efek Pemangkasan Anggaran, Masa Depan Pendidikan Indonesia di Ambang Krisis?
Program-Program Strategis yang Terpangkas:
-
Sertifikasi Kompetensi Siswa SMK & Magang Luar Negeri
- Anggaran: Rp65,036 miliar → Dihapus total
- Target: 100.750 siswa → 0 siswa
-
Pengembangan SMK Pusat Keunggulan (SMK-PK)
- Anggaran: Rp528,678 miliar → Rp15 miliar
- Target: 1.178 SMK → 15 SMK
-
Pengembangan Teaching Factory di SMK
- Anggaran: Rp156,831 miliar → Rp39,145 miliar
- Target: 450 SMK → 184 SMK
-
Peningkatan Kualitas SMK Non-PK
- Anggaran: Rp74,637 miliar → Rp15 miliar
- Target: 312 SMK → 63 SMK
-
Pembinaan Kemitraan Dunia Usaha & Industri (DUDI)
- Anggaran: Rp40,446 miliar → Dihapus total
- Target: 192 lembaga → 0 lembaga
-
Pelatihan Guru & Tenaga Kependidikan Vokasi
- Anggaran: Rp154,080 miliar → Rp22,312 miliar
- Target: 10.214 orang → 1.421 orang
Baca Juga: Gubernur NTT, Melki Laka Lena, Dorong Pembangunan Pendidikan dan Ekonomi Daerah
Sorotan DPR: Masa Depan Lulusan Terancam
Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, menegaskan pentingnya pendidikan vokasi sebagai bekal keterampilan bagi generasi muda. Ia prihatin karena program sertifikasi hingga pelatihan guru justru yang paling banyak dipangkas.
"Pendidikan vokasi sangat penting agar lulusan mandiri dan siap kerja. Kalau pelatihannya dipangkas, bagaimana mereka bisa siap menghadapi dunia kerja?" ujar Ledia.