Sebaliknya, pengelolaan hanya hanya memiliki sistem atau SOP, namun tidak memiliki kepemimpinan, maka hanya akan membuat pengembangan persepakbolaan berada ditataran teori.
“Tidak mungkin perubahan itu terjadi tanpa ada SOP, sistem, dan leadership. Musti ada. Kalau hanya leadership ‘Wah (pemimpin) ini bagus nih’. Nanti (pada saat) dia diganti, dan gak ada sistemnya, rusak lagi. Atau ada sistem, tetapi gak ada pemimpinnya, percuma, bakal jadi makalah. Itu Indonesia paling seneng bikin makalah tebal-tebal,” pungkas Erick.***