NTTHits.com, Jakarta – Komisi X DPR RI akan menggelar rapat tertutup bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro pada Kamis (23/1/2025).
Topik utama pertemuan ini tak hanya membahas program kementerian, tetapi juga mengupas konflik panas di Kemdiktisaintek yang menyeret nama Menteri Satryo.
Dari aksi demonstrasi ASN hingga dugaan pemecatan sepihak, berikut tiga poin utama kisruh yang jadi perhatian publik:
Baca Juga: Curah Hujan Rendah, Los Angeles Terancam Titik Kebakaran Baru di California
1. Sindiran Pedas Lewat Spanduk: "Bukan Babu Keluarga!"
Kemarahan pegawai Kemdiktisaintek mencuat ke publik melalui aksi demo ratusan ASN di depan kantor kementerian pada Senin (20/1/2025). Dengan membawa spanduk bertuliskan "Institusi negara bukan perusahaan pribadi Satryo dan Istri", aksi ini menyindir keras kepemimpinan Menteri Satryo.
Spanduk lain yang tak kalah pedas berbunyi, "Kami ASN, dibayar oleh negara, bekerja untuk negara, bukan babu keluarga."
Tak hanya itu, di depan gedung kementerian juga terpampang tulisan: "Pak Presiden, selamatkan kami dari menteri pemarah, suka main tampar, dan main pecat."
Sindiran ini menunjukkan adanya ketidakpuasan mendalam dari para pegawai terhadap gaya kepemimpinan Satryo, yang dianggap otoriter dan tidak transparan.
Baca Juga: Viral! Program Tidur Siang di Sekolah, Mendikdasmen: Inovasi yang Bagus untuk Siswa
2. Dugaan Pemecatan Sepihak ASN Neni Herlina
Kisruh makin memanas setelah muncul kasus dugaan pemecatan Neni Herlina, seorang Pranata Humas Ahli Muda sekaligus Pj. Rumah Tangga Kemdiktisaintek.
Neni mengungkapkan, pada Jumat (17/1/2025), ia diusir langsung oleh Menteri Satryo dari ruangannya di lantai 18. Peristiwa itu terjadi di hadapan banyak saksi, membuat Neni merasa terhina setelah 24 tahun mengabdi sebagai ASN.
"Beliau masuk ke ruangan saya, mengusir saya di depan semua orang, dan memerintahkan saya untuk pindah ke Kemendikdasmen," ungkap Neni.
Dugaan pemecatan ini dipicu oleh persoalan sederhana: meja dan kursi di ruang Menteri Satryo dianggap tidak layak dan harus diganti. Namun, Neni mengklaim bahwa tugasnya hanya sebatas urusan rumah tangga kantor, bukan tanggung jawab substantif pendidikan tinggi.
"Masalahnya bermula dari meja di lantai 18 yang dianggap tidak menghormati beliau. Semua masalah rumah tangga akhirnya bermuara ke saya," pungkasnya.