NTTHits.com, Kupang - Ketua Umum The Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia, Joni Aswira Putra mengatakan, Indonesia berpotensi mengalami kerugian hingga Rp. 112,2 triliun akibat krisis iklim sepanjang tahun 2023.
Hal tersebut di sampaikan saat mengelar Workshop Memperkuat Narasi Lingkungan di Tahun Politik bagi Jurnalis dan Jurnalis Warga di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) , ., Selasa, 1 Agustus 2023.
Baca Juga: SIEJ Gerakan Jurnalis Warga dan Wartawan NTT Perkuat Isu Lingkungan di Tahun Politik
Nilai kerugian tersebut, diperkirakan akibat perubahan iklim yang menyebabkan banjir dan berbagai bencana lainnya, mengganggu rantai pasok hingga menyebabkan tekanan pada inflasi. Ini belum termasuk biaya sosial dan kesehatan yang harus ditanggung masyarakat.
"Indonesia berpotensi mengalami kerugian hingga Rp. 112,2 triliun akibat krisis iklim sepanjang tahun 2023,"kata Ketua Umum SIEJ, Joni Aswira Putra.
Menurut survei yang dilakukan YouGov, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara dengan penduduk terbanyak yang tidak percaya pada pemanasan global. Fakta ini ditemukan dalam survei yang digelar dari 30 Juli - 24 Agustus 2020 terhadap 26.000 responden dari 25 negara.
Baca Juga: Jemaat Alfa Omega Labat Kupang Gelar Ibadah Syukur Panen
Para generasi muda ini termasuk milenial dan Gen Z, berpeluang besar menjadi penentu masa depan politik di Indonesia termasuk isu perubahan iklim. Dari berbagai kajian, diprediksi pemilih dari generasi milenial dan Z akan mendominasi perolehan suara di Pilkada Pemilu 2024.
Dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu Serentak 2019, ada 17.501.278 pemilih berusia 20 tahun, sedangkan yang berusia 21-30 tahun sebanyak 42.843.792 orang. Untuk pemilu 2024, jumlah pemilih milenial dan generasi Z diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 60% dari total suara.
Baca Juga: Tokoh Adat Ngada, Yohanes Wae Ajak Lestarikan Ritual Ulu Ana Kolo Eko Ago Lowa
Bertolak dari kondisi tersebut, tahun politik menjadi momentum penting untuk menguatkan isu lingkungan di kalangan generasi muda dan masyarakat pada umumnya, sekaligus bagi kandidat-kandidat pemimpin parpol dalam kampanye dan debat kandidat calon kepala daerah, membangun sebanyak-banyaknya narasi perubahan iklim dan masalah lingkungan di antara politisi serta membangun kolaborasi dan berbagi pengetahuan antara wartawan dan komunitas dari aktivis lingkungan.
“Harapannya, isu lingkungan dan perubahan iklim menjadi perhatian bersama dan bisa menjadi perbincangan serta agenda yang diusung oleh para kandidat capres, pilkada maupun pileg yang akan bertarung di Pemilu 2024,” tambah Aswira.
Baca Juga: Air PDAM Rote Ndao Sering Ngadat, Warga Pertanyakan Dana Pemda Rp500 Juta
Salah satu upaya menguatkan isu lingkungan bisa dilakukan dengan memperkuat literasi media mengenai masalah iklim dan lingkungan di berbagai daerah yang melibatkan media arus utama, media komunitas maupun para pemuda pegiat konservasi di daerah. Kemampuan menggunakan platform media baru untuk mengangkat masalah iklim dan lingkungan di wilayah mereka menjadi penting