Saat itu posisi HP ada dalam genggaman tangan korban dan korban mengatup tangan di bagian dada.
Baca Juga: Ratusan Kepsek, Guru dan Tenaga Kependidikan Ikut Lomba Pendidik Berprestasi Tingkat Kota Kupang
Pelaku memaksa memasukan tangannya ke dalam baju bagian dada korban, tapi bukan mengambil HP. Korban berusaha melawan dengan berusaha mengeluarkan tangan pelaku dari dalam pakaian dinas.
"Dibalik pakaian dinas saya, tangannya bebas memegang bagian tubuh sensitif saya. Saya berusaha mengeluarkan tangannya tapi dia cukup besar apalagi tangannya, saya tidak kuat. Untuk lebih leluasa dia merabik seragam saya hingga beberapa kancing terlepas.
Saat seragam yang saya pakai sudah hampir terlepas dia pindah ke arah belakang saya dan kembali memasukan tangannya ke bagian dada saya. Kalung saya ditarik sampai putus.
Saya sempat berlari keluar, tapi dia hadang saya di pintu. Saya menangis berteriak minta tolong tapi tidak ada satupun orang yang mendengar.
Dia tidak peduli teriakan saya, betis saya ditendangnya berulang kali", beber korban.
"Aduh bapak sudah buat saya seperti apa ini", tanya korban sambil menangis.
Akhirnya korban berhasil melarikan diri keluar kelas dan menuju ruangan yang tertutup namun tidak dikunci. Di sana ada seorang rekan guru, bernama ibu Eti. Korban meminta tolong pinjamkan peniti dan secara singkat menceritakan ulah Kepsek.
"Pinjam peniti, lihat ini bapak Kepsek sudah merabik baju saya", kata korban.
Baca Juga: Dugaan Rekayasa Dana Reses Tahun 2020, 30 ADPRD Kabupaten Timor Tengah Utara Bakal Diperiksa Jaksa
Belum sempat mendapat pinjaman peniti, dari luar ruangan kelas, si Kepsek terus berteriak menyuruh korban keluar dari kelas.
"Wei, keluar kau dari situ. Anak - anak sementara ikut pembinaan', teriak pelaku.
Korban merasa ketakutan kalau pelaku mengikutinya di dalam kelas. Korban mengambil tas dan langsung pulang. Tapi terus diikuti si Kepsek sampai di jalan raya.
"Dia mengambil kayu dan memuukul berulang kali di betis saya, dia tarik tangan saya seperti binatang mau bawa masuk ke kelas. Sampai di depan perpustakaan, saya duduk di tangga dan menangis.
Dia bicara ke saya akan menceritakan ke ibu Eti bahwa pakaian saya sobek karena tersangkut di ujung meja sampai kancing terlepas", aku korban.
Saat itu, kata korban pelaku sempat ketakutan dan meminta maaf berulang kali.
Pelaku mencoba melalui keluarganya juga mengirim pesan WA meminta maaf ke korban, orang tua korban dan saudara - saudara korban.
Dia juga meminta agar masalah tersebut jangan dilanjutkan.