NTTHits.com, Kupang - Ketua Koalisi masyarakat pemberantasan korupsi (Kompak) Indonesia Indonesia, Gabriel Goa menilai Bank NTT sedang menuju Bank resesi. Ada empat indikasi kondisi tidak ideal yang sedang dialami.
"Saya lihat Bank NTT sudah menuju ke pra resesi. Hal ini tampak dari profile resiko, GCG, rentabilitas dan permodalan yang sudah tidak ideal lagi," kata Gabiel kepada media ini, Jumat, 27 Januari 2023.
Empat Indikasi kondisi tidak ideal yang sedang mereka alamai yakni;
Baca Juga: Serius Tangani Dugaan Korupsi Rp5 M Bank NTT, Kejari Kota Diapresiasi
Pertama, Profile risikonya. Dimana tata kelola risikonya sudah terpapar risiko. Pengawasan aktif Direksi dan Dewan Komisaris atas kualitas penerapan manajemen risiko dinilai kurang memadai yang tercermin dari masih adanya temuan berulang seperti rekomendasi BPK terhadap hasil audit MTN yang belum di tindak lanjuti hingga kini.
Di mana salah satu pointnya menyatakan agar direksi memberikan sanksi kepada pejabat dan petugas yang terlibat dalam pembelian MTN pada PT SNP dan juga merecovery kerugian sebesar Rp 50 M. Namun hingga saat ini tak satupun dari kedua rekomendasi ini di tindak lanjuti.
"Malah kasus ini bergeninding semakin massif dalam pemberitaan di media," katanya.
Selain itu dengan adanya kejadian penggunaan aplikasi b pung mobile sejak 17 Juli 2021 yang belum menadapat ijin Bank Indonesia (BI), hal ini sudah pasti terekspose risiko kepatuhan. Adanya gugatan oleh mantan DIRUT pada para pemegang saham ini juga menyebabkan bank NTT telah terekspose risiko hukum, risiko reputasi, lalu adanya dugaan penggunaan dana perjalanan dinas yang melampaui anggaran , menyebabkan bank NTT tereskpose risiko strategic.
Baca Juga: MTN Bank NTT, Mantan Kadiv Manajemen Risko Juga Harus Bertanggung Jawab
"Demikian juga laba yang di peroleh tidak mencapai sesuai dengan anggaran yang di tetapkan dalam Rencana Bisnis Bank, juga menyebabkan bank terekspose risiko strategi," jelasnya.
Kedua, GCG atau Good Corpoareta Governance atau tata kelola Perusahaan yang sedang dalam situasi tidak ideal. Di antaranya, Direktur Kepatuhan belum optimal dalam memastikan seluruh kebijakan dan prosedur yang diambil oleh Direksi agar tidak menyimpang dari ketentuan dan belum ada laporan khusus dari direksi kepada publik tentang pemberitaan di media terkait kritik terhadap kinerja bank NTT.
Ketiga, Rentabilitas, laba 3 tahun terakhir terus menurun, ini menunjukan kecenderungan rentabilitas bank setiap tahun mengalmi penurunan.
Keempat, Permodalan modal bank masih kurang Rp700 M untuk memenuhi syarat regulator sebesar Rp 3 Triliun.
"Keempat hal di atas adalah fondasi agar bisnis bank sehat, namun keadaannya saat ini sudah tidak ideal lagi. Baik aspek kualitatif maupun kuantitatif sudah terpapar risiko. Semangat berbisnis dan kepintaran kerja sedang membunuh mereka, karena mereka tidak memiliki saudara kembar mereka bernama integritas," jelasnya.