NTTHits.com, Jakarta – Dunia industri tengah dihebohkan dengan dua kabar besar yang mengguncang sektor manufaktur di Indonesia. Di satu sisi, PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex resmi gulung tikar akibat lilitan utang yang tak terbayarkan. Di sisi lain, PT Sanken Indonesia menghadapi kendala besar dalam pengembangan produk, yang membuatnya terpaksa menghentikan operasional pada Juni 2025.
Sritex: Raksasa Tekstil yang Tumbang karena Utang
Sritex, perusahaan tekstil raksasa asal Sukoharjo, Jawa Tengah, resmi menghentikan seluruh operasionalnya pada 1 Maret 2025. Ribuan karyawan pun harus mengakhiri masa kerja mereka lebih awal, setelah dinyatakan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada 26 Februari 2025.
“Setelah dilakukan perundingan, sudah menemui titik temu. PHK diputuskan pada 26 Februari, namun karyawan tetap bekerja hingga 28 Februari. Mulai 1 Maret, perusahaan berhenti total dan sepenuhnya menjadi kewenangan kurator,” ungkap Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Sukoharjo, Sumarno, pada Kamis (27/2/2025).
Keputusan ini tak lepas dari vonis pailit yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Dalam perkara nomor 2/Pdt.Sus-Homologasi/2024/PN Niaga Smg, Sritex dinyatakan bangkrut setelah gagal melunasi utangnya kepada PT Indo Bharat (IBR) yang mencapai Rp101,30 miliar. Jumlah ini memang hanya 0,38 persen dari total liabilitas Sritex, tetapi cukup untuk membuat perusahaan jatuh ke jurang kepailitan.
Dengan status kepemilikan yang kini dipegang kurator, nasib ribuan mantan karyawan Sritex kini bergantung pada proses hukum dan kebijakan BPJS Ketenagakerjaan terkait hak jaminan hari tua mereka.
Baca Juga: Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1446 H Jatuh pada 1 Maret 2025
Sanken Indonesia: Terkendala Dukungan Teknologi dari Perusahaan Induk
Sementara itu, PT Sanken Indonesia juga akan menutup pabriknya di Indonesia pada Juni 2025. Namun, berbeda dengan Sritex yang tumbang karena utang, Sanken menghadapi kendala dari perusahaan induknya di Jepang, Sanken Electric.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta, menjelaskan bahwa penghentian produksi ini terjadi karena tiga alasan utama:
-
Keputusan Perusahaan Induk – Pada Februari 2024, Sanken Electric di Jepang mengumumkan bahwa PT Sanken Indonesia akan menghentikan produksi pada Juni 2025. Keputusan ini telah dikomunikasikan kepada pelanggan dan karyawan.
-
Tidak Ada Dukungan Teknologi Baru – Dalam periode 2017–2019, divisi power supply dan transformator Sanken Electric dijual ke grup perusahaan lain di Jepang. Namun, PT Sanken Indonesia tidak ikut dalam proses akuisisi ini, sehingga tidak lagi mendapatkan pembaruan desain dan teknologi dari induk perusahaan.
-
Kesulitan Bersaing – Tanpa inovasi baru, PT Sanken Indonesia kesulitan bersaing di pasar. Perusahaan terus mengalami kerugian, apalagi produk-produk yang dihasilkan sudah bukan bagian dari bisnis utama Sanken Electric yang kini lebih fokus pada pengembangan semikonduktor.
Dengan kondisi ini, PT Sanken Indonesia hanya bisa bertahan hingga pertengahan 2025 sebelum akhirnya menutup operasionalnya.
Dua Nasib Berbeda, Satu Kesamaan: Industri yang Berjuang
Meski mengalami nasib berbeda, kisah Sritex dan Sanken Indonesia menunjukkan betapa kerasnya persaingan di dunia industri. Sritex tumbang karena utang yang menumpuk, sementara Sanken Indonesia tak mampu bertahan akibat minimnya dukungan teknologi.
Di tengah ketidakpastian ini, industri manufaktur Indonesia menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan dan berdaya saing. Apakah masih ada harapan bagi perusahaan-perusahaan lain untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi global? Kita tunggu perkembangan selanjutnya. ***