Viralnya kasus ini sampai ke telinga Presiden Prabowo Subianto. Melalui Wakil DPRD Sumatera Utara, Ihwan Ritonga, pihak Gerindra memberikan bantuan untuk melunasi tunggakan SPP MI dan memastikan masa depan pendidikannya terjamin.
"Kami mendapat arahan dari Presiden untuk hadir di tengah masyarakat dan memberikan solusi atas masalah ini," ujar Ihwan Ritonga saat mengunjungi rumah MI, Jumat, 10 Januari 2025.
Ihwan juga menyerahkan keputusan kepada AM, apakah MI akan tetap bersekolah di SD tersebut atau pindah ke sekolah lain untuk memulihkan kondisi psikologisnya.
Baca Juga: Pertumbuhan Trafik Broadband Telkomsel Capai 17,95 Persen Selama Momen Naru 2024
Relawan dan Warganet Bergerak
Kisah MI menggugah hati banyak pihak. Sejumlah relawan turut membantu melunasi tunggakan SPP MI, memastikan ia bisa kembali belajar dengan tenang. Warganet juga ramai mengecam tindakan wali kelas yang dinilai tidak manusiawi.
"Anak-anak itu berhak belajar, terlepas dari kondisi ekonomi keluarganya. Mempermalukan mereka di depan teman-temannya hanya akan merusak mental mereka," tulis salah satu pengguna Twitter.
Pelajaran Berharga untuk Semua
Kasus MI menjadi pengingat penting tentang pentingnya empati dalam dunia pendidikan. Hukuman seperti ini tidak hanya melukai harga diri anak, tetapi juga menciptakan trauma yang dapat berdampak panjang.
Kini, dengan bantuan yang mengalir, MI telah kembali ke sekolah. Namun, kasus ini menyisakan pertanyaan besar: bagaimana memastikan dunia pendidikan menjadi tempat yang ramah dan adil bagi semua anak, tanpa memandang status sosial? ***