NTTHits.com, Kab Kupang - Universitas Brawijaya, Universitras Nusa Cendana dan Pemerintah Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Selasa, 25 Juli 2023, kembali berkolaborasi dalam menghasilkan solusi hilirisasi Teknologi Penangkaran Benih (TPB) yang ditawarkan dalam program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI.
Kegiatan tersebut, sebelumnya telah dilaksanakan tahun 2022 di Pulau Sumba, sementara di tahun 2023, Pulau Timor, tepatnya Kabupaten Kupang, menjadi lokasi program pendampingan program budidaya jagung hibrida, terutama sebagai petani program Tanam Jagung Panen Sapi - Pola Kemitraan (TJPS-PK).
Baca Juga: Sekundus Osin Amkeun, Pria Asal Timor Tengah Utara Ditikam OTK di Bali
Peserta yang terdiri dari Poktan Maju Bersama, Poktan Sama Rasa dan KWT Teode di Kabupaten Kupang merasakan ilmu yang penting dalam melakukan budidaya jagung hibrida, terutama sebagai petani Program TJPS-PK dari Prof. Ir. Arifin Noor Sugiharto MSc.PhD (sebagai ketua Tim MF dari Universitas Brawijaya) dan Azeri Gautama Arifin, SP.,M.Agr. (tenaga ahli dari Universitas Brawijaya).
Baca Juga: Dinsos NTT dan Angkasa Pura I Jalin Kerjasama Pertunjukan Musik di Bandara Eltari
Kegiatan ini sendiri bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan mitra dan penerima manfaat terkait perlunya budidaya F1 dari penangkaran benih dan processing pascapanen jagung hibrida Universitas Brawijaya di Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam kolaborasi Progam TJPS-PK dan Program Matching Fund.
Para petani di Kabupaten Kupang ini akan mendapatkan pendampingan berkelanjutan dan praktik lapangan yang dilaksanakan bersama dengan mahasiswa yang tergabung dalam program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) dari Universitas Brawijaya sebanyak 5 orang dan Universitas Nusa Cendana Kupang sebanyak 36 orang.
Baca Juga: Pemprov NTT Ingkar Janji Digugat PT.SIM, Ini Pendapat Saksi Ahli Dalam Persidangan
Sebagai informasi, sebagian besar kondisi agroklimat di wilayah NTT beriklim panas dengan curah hujan rendah hingga sedang, tanah kering dan berbatuan. Namun demikian, Data Badan Pusat Statistik (2022), melaporkan ada lebih dari 364 ribu Ha lahan yang potensial untuk pengembangan tanaman jagung yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak maupun industri. (*)