NTTHits.com, Jakarta – Timnas Indonesia semakin dekat dengan mimpi besar: lolos ke Piala Dunia 2026! Performa luar biasa Garuda di Kualifikasi Round 3 Zona Asia semakin menunjukkan bahwa Indonesia bukan lagi tim penggembira.
Dengan berada di peringkat ke-3 Grup C setelah kemenangan besar melawan Arab Saudi, Timnas asuhan Patrick Kluivert siap menghadapi Australia dan Bahrain pada Maret 2025.
Salah satu kunci kekuatan Garuda saat ini adalah kehadiran para pemain keturunan Indonesia yang bermain di Eropa. Namun, bagi Ketum PSSI Erick Thohir, naturalisasi bukan sekadar proses administratif—hati dan pikiran pemain harus bersatu dalam membela Merah Putih!
Baca Juga: Media Korsel Sindir PSSI, “Tega Banget Sampai Akhir, STY Pulang Tanpa Penghargaan”
Strategi Erick Thohir: Naturalisasi dengan Standar Tinggi
Erick Thohir menegaskan bahwa naturalisasi bukan hal baru bagi Timnas Indonesia. Program ini sudah ada sejak era kepemimpinan tiga hingga empat Ketum PSSI sebelumnya. Namun, ada satu perbedaan besar yang ia terapkan.
"Saya ingin memperbaiki kualitas pemain yang kami naturalisasi dan juga nasionalismenya," tegas Erick dalam wawancara dengan Neal Petersen di kanal YouTube The Haye Way (1/2/2025).
Menurutnya, para pemain yang dipilih harus memiliki komitmen penuh dan kecintaan terhadap Indonesia.
"Kecintaan terhadap Tanah Air akan membawa semangat tersendiri dalam meraih hasil maksimal," lanjutnya.
Baca Juga: Pilu Shin Tae-yong Usai Dipecat PSSI, “Seperti Diminta Pergi Secepat Mungkin”
Naturalisasi Bukan Sekadar Status, Hati dan Pikiran Harus Hadir Bersama
Bagi Erick, seorang pemain naturalisasi bukan hanya soal paspor, tetapi juga tentang rasa memiliki dan kebanggaan membela Garuda.
"Kami tidak hanya membawa banyak pemain, saya percaya hati dan pikiran harus hadir bersama," kata Erick.
Baginya, perjuangan Timnas bukan hanya ada di lapangan, tetapi juga di tribun stadion.
"Saya ingin mengajak semua orang, tidak hanya pemain dan pelatih, tapi juga suporter. Kehadiran mereka di stadion memberikan semangat luar biasa," tambahnya.
Menurut Erick, nasionalisme harus menjadi bagian dari sepak bola, bukan sekadar hiburan semata.