NTTHits.com, Jakarta - Pemecatan Shin Tae-yong (STY) oleh PSSI menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sepak bola tanah air. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengumumkan keputusan tersebut secara resmi pada konferensi pers, Senin, 6 Januari 2025, di Jakarta.
Meski Erick menegaskan langkah ini diambil demi evaluasi dan peningkatan performa Timnas Indonesia, publik merasa keputusan ini terkesan mendadak. Kontroversi makin memanas setelah putra STY, Shin Jae-won, menyuarakan kekecewaannya di media sosial.
Namun, Erick Thohir bukan satu-satunya Ketua Umum PSSI yang pernah memicu polemik. Berikut ini adalah tiga kontroversi besar yang pernah melibatkan para pendahulunya dan menggegerkan dunia sepak bola Indonesia.
Baca Juga: Dibela Korsel hingga Disindir Malaysia, Riuh Media Asing soal Pemecatan Shin Tae-yong oleh PSSI
1. Mochamad Iriawan: Nepotisme, Apparel, hingga Tragedi Kanjuruhan
Mochamad Iriawan, yang akrab disapa Iwan Bule, menjabat sebagai Ketua Umum PSSI periode 2019-2023. Selama masa jabatannya, sejumlah keputusan kontroversial membuatnya menjadi sorotan tajam.
Nepotisme: Iwan Bule menuai kritik tajam karena menunjuk Maaike Ira Puspita, yang merupakan adik iparnya, sebagai Wakil Sekjen PSSI pada Januari 2022. Langkah ini dianggap tidak transparan dan mencederai profesionalisme.
Sponsor Apparel: PSSI di bawah kepemimpinannya membatalkan kesepakatan dengan apparel asal Thailand, Warrix, secara sepihak dan menggantinya dengan Mills. Keputusan ini memicu polemik besar.
Tragedi Kanjuruhan: Salah satu tragedi terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia terjadi di Kanjuruhan pada Oktober 2022. Meskipun desakan publik memintanya mundur, Iwan Bule tetap bertahan hingga akhirnya mundur pada Januari 2023 setelah tekanan besar dari masyarakat.
Baca Juga: Askab PSSI Belu Akan Gelar Turnamen U-22 Persiapan Eltari Cup di Manggarai Barat
2. Iwan Budianto: Dualisme Liga hingga Kasus Korupsi
Iwan Budianto yang menjabat sebagai Ketum PSSI dari Maret hingga November 2019 juga memiliki rekam jejak kontroversial.
Dualisme Liga: Iwan Budianto dituding berperan besar dalam dualisme liga sepak bola Indonesia yang berlangsung lebih dari satu dekade.
Tragedi Kanjuruhan: Sebagai pemegang saham Arema FC, Iwan dianggap turut bertanggung jawab atas tragedi ini.