NTTHits.com, Kupang - Angka kasus stunting tertinggi kedua di Indonesia, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai meluncurkan Gerakan Kemanusiaan Percepatan Penanganan Stunting Terintegrasi (GKP2ST).
"Pentingnya gerakan kemanusiaan ini sebagai respons atas masalah stunting agar tahun 2045 harus jadi momen lahirnya generasi NTT yang berkualitas dan mampu bersaing, demi mencapai bonus demografi yang bersejarah,"kata Pj Gubernur NTT, Andriko Noto Susanto, Sabtu, 26 Oktober 2024.
Baca Juga: USS 2024 X BRImo, Kolaborasi Keren BRI untuk Mendukung Fashion dan Lifestyle Anak Muda Indonesia
Menurut dia, GKP2ST sebagai respons atas masalah stunting yang dianggap sebagai bencana kemanusiaan non-alam, karena dampak negatifnya terhadap perkembangan kognitif anak, produktivitas, dan perekonomian.
Adapun GKP2ST menjadi gerakan bersama yang meliputi peresmian Pusat Pemulihan Gizi (Therapeutik Feeding Center) di Puskesmas Oesapa, menjadi langkah strategis dalam mempercepat penanganan gizi buruk anak-anak di Kota Kupang.
Peluncuran aplikasi "Anting Orta" atau Tangani Stunting Melalui Orang Tua Asuh, memungkinkan perangkat daerah di tingkat provinsi berperan sebagai orang tua asuh bagi anak-anak stunting.
Baca Juga: Dua SMA di Kota Kupang Implementasi Program Kamus Masuk Sekolah
Program "Anting Mutiara,” sebuah pendekatan berbasis aplikasi dengan data “by name by address” untuk memantau anak-anak yang memerlukan intervensi gizi,anak mendapatkan imunisasi dasar lengkap serta terbebas dari TBC dan malaria
"Aplikasi aplikasi ini memberikan akses cepat dan tepat untuk mendorong pemulihan gizi buruk di masyarakat,"tambah Andriko.
Pj Wali Kota Kupang, Linus Lusi, saat menghadiri Grand Launching Gerakan Kemanusiaan Percepatan Penanganan Stunting Terintegrasi mengapresiasi peran semua pihak, ia mengatakan, dengan kehadiran Pusat Pemulihan Gizi di Puskesmas Oesapa menjadi langkah strategis dalam mempercepat penanganan gizi buruk anak-anak di Kota Kupang.
Selain itu, aplikasi - aplikasi "Anting Orta dan Anting Mutiara" akan meningkatkan efektivitas dan pengukuran dalam penanganan stunting secara lebih menyeluruh.
"Peluncuran hari ini menunjukkan komitmen untuk menurunkan angka stunting di Kupang, yang saat ini mencapai sekitar 4.000 anak, dengan kolaborasi lintas sektor, target penurunan signifikan menjadi 2.000 anak dapat tercapai,"tandas Linus.
Baca Juga: Pj Wali Kota Kupang Ajak Guru dan Orangtua Murid Jadi Pelopor Cegah Stunting