NTTHits.com, Kupang - Pj Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Andriko Noto Susanto menyebutkan, persentase stunting di NTT adalah yang tertinggi di Indonesia, yakni sebesar 37,9persen.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan peluncuran Bantuan Pangan, Pengentasan Rawan Stunting tahun 2024 kerjasama ID Food, Badan Pangan Nasional (BPN), BKKBN, dan Pos iND Logistik Indonesia di Kelurahan Naikolan, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Kamis, 12 September 2024.
Baca Juga: Temui Pj Wali Kota Kupang, Universitas Terbuka Minta Pemkot Akomodir Beasiswa Bagi Mahasiswa UT
"Ini tidak bisa dianggap biasa, karena negara memandang stunting sebagai ancaman serius. Jika tidak segera ditangani, stunting bisa dikategorikan sebagai bencana non-alam karena ancamannya terhadap generasi mendatang sangat besar,”tegas Andriko.
Bahkan, menurut dia, di beberapa kabupaten memiliki persentase stunting lebih dari 50persen, yang berarti satu dari dua anak di daerah tersebut mengalami stunting. Stunting ini adalah kondisi kekurangan gizi kronis yang berlangsung lama, sehingga mengganggu pertumbuhan fisik dan mental anak-anak.
Baca Juga: Kunjungi Sejumlah Sekolah, Pj Wali Kota Ingatkan Jaga Kebersihan Serta Minta Peran Aktif Orangtua
Pj.Wali Kota Kupang, Linus Lusi, mengatakan bahwa Kecamatan Maulafa adalah salah satu kecamatan dengan jumlah penduduk yang besar dan menyumbang angka stunting yang cukup tinggi.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kupang, jumlah balita stunting di Kota Kupang per Juli 2024, mengalami peningkatan jumlah mencapai 4.117 anak atau sebesar 18,56persen dari sebelumnya berada di angka 17,2persen atau sebanyak 4.019
"Kecamatan Maulafa adalah salah satu kecamatan dengan jumlah penduduk yang besar dan menyumbang angka stunting yang cukup tinggi,"kata Linus.
Sebanyak 83 Keluarga Rawan Stunting (KRS) atau sebanyak 3.275 anak menjadi sasaran bantuan Pangan Pengentasan Rawan Stunting tahun 2024 yang dilakukan di 9 titik se-Kecamatan Maulafa. (*)