“Mewarisi Api Kartini: Perjuangan Perempuan Penyandang Disabilitas Menembus Batas"

photo author
Lidya Radja, NTT Hits
- Senin, 21 April 2025 | 19:09 WIB
 Yomiani Radja, ST (Senior Friends GMKI)
Yomiani Radja, ST (Senior Friends GMKI)

Mewarisi api Kartini berarti meneruskan semangat untuk melawan ketidakadilan. Artinya, kita tidak boleh tinggal diam melihat perempuan  penyandang disabilitas masih mengalami perlakuan diskriminatif. Kita harus membuka ruang, menciptakan lingkungan yang ramah, serta mendorong regulasi yang berpihak pada kelompok rentan. Lebih dari sekadar memperingati, Hari Kartini seharusnya menjadi momentum refleksi: sudah sejauh mana perjuangan kita untuk menjadikan Indonesia sebagai rumah yang adil bagi semua, tanpa kecuali?

Menuju Masyarakat yang Inklusif

Kita membutuhkan perubahan paradigma dan terminology Penyandang Disabilitas tidak boleh lagi dilihat sebagai “kekurangan”, tidak agi disebut sebagai orang “cacat”, “orang sakit” tetapi sebagai bagian dari keberagaman manusia. Kita membutuhkan kurikulum yang inklusif, wadah yang menampung aspirasi, media yang representatif, arsitektur yang aksesibel, serta kebijakan yang berpihak. Dalam proses menuju masyarakat inklusif ini, suara perempuan penyandang disabilitas harus didengarkan dan ditindaklanjuti. Bukan hanya sebagai penerima kebijakan dan objek pembangunan, tetapi juga sebagai subjek pembangunan, penyusun dan penggeraknya. Kita perlu melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Karena tidak ada yang lebih tahu kebutuhan penyandang disabilitas selain mereka sendiri.

Baca Juga: Semangat Kartini Masa Kini: Ibu Faizal Bangkit Bersama PNM Mekaar, Terangi Harapan 35 Anak Panti

Cahaya dari Api yang Tak Pernah Padam

Api yang dinyalakan Kartini tidak padam. Ia berpindah dari tangan ke tangan, dari generasi ke generasi. Dan hari ini, api itu menyala di mata perempuan penyandang disabilitas yang terus melangkah, meski dunia tak selalu memberi jalan. Mereka bukan hanya penerus Kartini. Mereka adalah Kartini itu sendiri—yang memilih melawan dalam diam, yang berdiri dalam keterbatasan, dan yang menyala dalam kegelapan. Sudah saatnya kita mengubah cara kita memandang perempuan penyandang disabilitas. Bukan sebagai “yang perlu dikasihani”, tetapi sebagai inspirasi, pemimpin, dan bagian tak terpisahkan dari masa depan bangsa. Karena seperti yang pernah ditulis Kartini: “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.” Selamat Memperingati  Hari Kartini tahun 2025, Salam Inklusi.

Oleh : Yomiani Radja, ST (Senior Friends GMKI)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Lidya Radja

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X