NTTHits.com, Kupang - Kearifan budaya lokal "Hoholok/Papadak" dalam menjaga keseimbangan lingkungan, kini kembali diterapkan Koalisi ADAPTASI di tiga desa pesisir kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
"Kita ada pendampingan untuk bangkitkan kembali nilai nilai budaya di Rote yang diturunkan nenek moyang yakni Hoholok Papadak, bagaimana menjaga daratan dan laut kita sebagai bentuk beradaptasi terhadap perubahan iklim,"kata Distrik Fasilitator Koalisi ADAPTASI Kabupaten Rote, Veronika Haning, Sabtu, 4 November 2023.
Baca Juga: Pengunjung Festival PRF 2023 di Kupang Takjub dan Teredukasi, Ternyata NTT Kaya Akan Ragam Pangan
Tiga desa binaan koalisi ADAPTASI tersebut yakni desa- desa pesisir diantaranya desa Sakubatun, Fuafuni dan Hololai kecamatan Rote Barat Daya yang telah didampingi selama dua tahun agar memiliki pengetahuan terkait keadilan iklim, upaya mitigasi dan strategi adaptasi ketahanan perubahan iklim.
Vero menjelaskan, salah satu kearifan lokal yang ada dan dibangkitkan kembali di Kabupaten Rote Ndao yakni adalah Hoholok Papadak, yakni suatu kesepakatan adat atau kearifan lokal yang berlaku di darat maupun di laut, pada wilayah pesisir yang memiliki kekayaan alam maka perlu dilindungi dengan acara adat.
Secara harfiah Hoholok Papadak merupakan dua kata yang pengertiannya sama. Penggunaan kata ‘Papadak’ diterapkan oleh masyarakat adat dari Rote Tengah mulai Kecamatan Rote Tengah ke wilayah Timur (Pantai Baru, Rote Timur dan Landuleko). Sedangkan penamaan ‘Hoholok’ diberikan oleh masyarakat Kecamatan Lobalain ke wilayah Barat (Rote Selatan, Rote Barat Laut, Rote Barat dan Rote Barat Daya).
Baca Juga: Pesta Raya Flobamoratas Wadah Narasi dan Kampanye Aksi Iklim Dari NTT Untuk Indonesia
Penerapan Hoholok Papadak bertujuan mencegah timbulnya konflik di kalangan petani dan peternak, rusaknya sumber air, menjaga laut dari pola penangkapan ikan yang menggunakan alat berbahaya bagi keberlangsung ekosistem, mengatasi pencurian hasil perkebunan dan persawahan, pasangan yang akan menikah wajib menanam pohon sebagai bentuk tanggung jawab keberlangsungan lingkungan, membangun etika dan nilai-nilai kebersamaan, membedakan mana yang boleh atau tidak boleh, serta mengelola hasil pertanian sehingga terjalin hubungan harmonis antara sesama pengguna sumberdaya alam.
"Deabatu jadi cara traditional pola menangkap ikan dengan tidak memakai alat yang merusak alam,"tambah Veronika
ADAPTASI menjadi salah satu dari empat koalisi besar Program Voices for Just Climate Action (VCA) atau Suara untuk Aksi Perubahan Iklim Berkeadilan, selain Koalisi SIPIL, Pangan BAIK (Beragam, Adapatif, Inklusif, dan Kokreasi), dan Koalisi KOPI (Koalisi Orang Muda Atasi Perubahan Iklim). (*)