NTTHits.com, Kupang - Media massa menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kesadaran dan mengubah cara pandang melawan stigma dan disinformasi terhadap disabilitas dan kelompok rentan lainnya yang ada di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Media massa dapat menjadi kekuatan untuk mengubah kesalahpahaman masyarakat dalam menampilkan penyandang disabiilitas dan kelompok rentan lainnya sebagai bagian dari umat manusia.,"kata Divisi Gender, Anak, dan Kelompok Marjinal Pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pusat, Ana Djukana, Kamis, 28 September 2023.
Baca Juga: Tradisi Perayaan Maulid Nabi Jadi Sejarah Budaya Islam di Tanah Timor
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan diskusi yang digelar Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas Untuk Inklusi (GARAMIN) NTT melalui program Strengthening social Inclusion For Difability Equity and Rights (SOLIDER SIGAB Indonesia), memperkuat inklusi sosial untuk kesetaraan dan hak-hak difabel.
Ana menjelaskan, pada umumnya, difabel kelompok rentan lainnya masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat adalah orang yang memiliki keterbelakangan. Padahal, setiap penyandang disabilitas bisa memiliki kesempatan yang sama dalam pembangunan di daerah.
Baca Juga: Telan Anggaran Rp.72,4 Milliar, Duplikasi Jembatan Kembar Liliba Kupang Jadi Dibangun
Namun, lanjutnya, kultur dalam masyarakat dikonstruksikan media dengan mengasumsikan disabilitas itu identik dengan belas kasihan sehingga harus mendapat bantuan, ketidaksempurnaan fisik (kerusakan) sakit, aneh, kutukan, akibat dosa dan membuat beban dalam keluarga dan masyarakat.
"Isu mengenai para disabilitas diangap bukan sebagai topik yang seksi,"tambah Anna
Isu disabilitas dianggap bukan menjadi bahan berita yang seksi karena asumsi media selama ini, topik tersebut kalau diliput dan diberitakan tidak menjadi perhatian publik untuk membaca atau menonton, padahal isu disabilitas adalah isu kemanusiaan yang jika direncanakan liputan dengan baik dan ditulis dalam bentuk feature atau tulisan mendalam akan membuat pembaca tertarik membacanya.
Wakil Direktur Garamin NTT, Berti Malingara menjelaskan Garamin NTT melalui program SOLIDER SIGAB Indonesia yang didukung oleh Program INKLUSI memberikan ruang bagi media untuk bisa mendukung upaya pengarusutamaan Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI) dalam implementasi program SOLIDER.
"Garamin NTT memberikan ruang bagi media untuk bisa mendukung upaya pengarusutamaan Gedsi dalam implementasi Solider,"kata Berti.
Baca Juga: Caleg DPR RI Oktobius Wiritana Ringu Jadi Inspirasi Petani Milenial
Menurut dia, penyandang disabilitas paling banyak tinggal di desa dan banyak mengalami diskriminasi serta belum mendapatkan hak sebagai warga negara yang sama dengan warga non difabel lainnya. Masih tingginya stigma masyarakat yang mengganggap difabel tidak mampu sehingga tidak dilibatkan dalam perencanaan pembangunan dan kegiatan sosial kemasyarakatan di desa.