NTTHits.com, Maumere — Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kopdit Pintu Air kembali menorehkan sejarah penting dalam perjalanan panjangnya. Pada Sabtu (tanggal acara), koperasi yang berbasis di Rotat, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka ini menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-XXIX Tahun Buku 2024 yang dirangkaikan dengan peluncuran buku bertajuk “Menghimpun Pasir Nan Terserak & Mukjizat Tuhan.”
Acara digelar di lantai tiga Aula Sumur Yakob, kantor pusat KSP Kopdit Pintu Air, dan diawali dengan misa kudus yang dipimpin oleh Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, S.V.D. Suasana syukur dan reflektif pun menyelimuti seluruh rangkaian kegiatan.
Buku Inspiratif, Cermin Perjalanan Koperasi Rakyat
Buku setebal 400 halaman yang ditulis oleh Damian Marjono ini bukan sekadar kisah, tetapi refleksi mendalam tentang perjuangan Kopdit Pintu Air membangun kesejahteraan masyarakat dari akar rumput. Mulai dari petani, nelayan, peternak, hingga buruh—semua tersentuh oleh pelayanan koperasi yang berdiri sejak 1 April 1995.
Baca Juga: Jalan Sehat di Maumere: Dandim 1603/Sikka Bangun Semangat Sehat dan Soliditas Prajurit
“Pasir itu kecil-kecil, tersebar di mana-mana—di gunung, di pantai. Tapi ketika dikumpulkan, bisa menjadi bangunan megah. Itulah filosofi dari buku ini. Kantor koperasi ini pun berdiri dari pasir-pasir kecil itu. Seperti juga kisah kecil para anggota yang bersama membangun kekuatan besar,” ujar Damian dalam sesi bedah buku.
Ia menegaskan bahwa buku ini hanyalah serpihan kecil dari lautan karya besar para penggerak KSP Kopdit Pintu Air. “Ini catatan kecil dari para pejuang kesejahteraan. Semangat mereka layak diteladani,” tambahnya.
Potongan Cerita Menjadi Warisan Sejarah
Ketua KSP Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano, dalam pengantarnya menyampaikan bahwa buku ini tidak dibuat untuk membanggakan diri, tetapi sebagai dokumentasi sejarah lisan yang kini ditulis dan diabadikan.
Baca Juga: Polres Sikka Gencar Berantas Premanisme: Ajak Masyarakat Jadi Garda Terdepan Keamanan
“Ini potongan-potongan cerita kecil yang dimulai dari Dusun Rotat pada 1 April 1995. Kisah ini kini menjalar ke desa, kecamatan, kabupaten, bahkan ke luar NTT—ke Jawa, Sumatera, Kalimantan, Papua, dan entah ke mana lagi di masa depan,” ungkap Yakobus penuh haru.
Ia berharap buku ini bisa menjangkau khalayak luas, terutama mereka yang belum pernah melihat langsung bagaimana koperasi ini bekerja di lapangan. “Buku ini ditulis dalam bahasa sederhana, agar siapa pun dapat memahami semangat pengabdian dan pelayanan yang kami jalani,” ujarnya.
Ikon Koperasi Nasional
Selama hampir tiga dekade, KSP Kopdit Pintu Air dikenal sebagai koperasi primer nasional yang berhasil menyabet berbagai penghargaan, baik dari pemerintah maupun lembaga non-pemerintah.