Bos Garuda Indonesia Ungkap Alasan Harga Tiket Pesawat Mahal, "Avtur dan Sewa Pesawat Penyebab Utama"

photo author
Yohanes Seo, NTT Hits
- Jumat, 24 Januari 2025 | 20:11 WIB
Bos Garuda ungkap alasan tiket pesawat Garuda mahal (Instagram.com/garuda.indonesia)
Bos Garuda ungkap alasan tiket pesawat Garuda mahal (Instagram.com/garuda.indonesia)

NTTHits.com, Jakarta – Polemik harga tiket pesawat yang tinggi kembali menjadi sorotan, terutama di masa liburan seperti Natal, Tahun Baru (Nataru), dan menjelang mudik Lebaran. Meski jadwal penerbangan bertambah, harga tiket Garuda Indonesia sebagai maskapai full service tetap menjadi topik perbincangan.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi V DPR RI pada Kamis, 23 Januari 2025, Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan, memaparkan alasan utama di balik tingginya harga tiket pesawat. Ia menjelaskan bahwa biaya operasional yang tinggi, terutama untuk avtur dan sewa pesawat, menjadi faktor utama yang membebani harga tiket.

Dua Faktor Utama: Avtur dan Sewa Pesawat
Wamildan mengungkapkan bahwa komponen biaya avtur berkontribusi sebesar 35% terhadap harga tiket pesawat. Selain itu, biaya sewa pesawat mencakup 30% dari total pengeluaran maskapai.

Baca Juga: Dewan Pers Resmi Luncurkan Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik

“Biaya avtur merupakan komponen terbesar dalam struktur harga tiket, mencapai 35 persen. Selain itu, harga sewa pesawat yang tinggi, yakni sekitar 300 ribu dolar AS per pesawat setiap bulan, juga menjadi faktor signifikan,” ungkap Wamildan.

Layanan Bandara dan Pajak Tambahan Bebani Maskapai
Tidak hanya avtur dan sewa pesawat, Wamildan menyoroti biaya pelayanan bandara sebagai penyebab lain mahalnya tiket Garuda Indonesia. Biaya tersebut meliputi biaya lepas landas, pendaratan, parkir pesawat, hingga sewa ruangan di bandara.

“Semua layanan bandara seperti take-off landing fee, parkir, hingga sewa ruangan bandara dikenakan pajak. Bahkan, bea masuk suku cadang yang masuk ke Indonesia juga kena pajak,” jelas Wamildan.

Baca Juga: Pelaku Pencurian Ternak Sapi, Yeremias Mataus Dibekuk Polisi Polsek Biboki Anleu. Terancam Hukuman 7 Tahun Penjara

Ia menegaskan bahwa tingginya pajak dan biaya operasional ini membuat maskapai semakin sulit menjaga harga tiket tetap terjangkau, terutama bagi maskapai full service seperti Garuda Indonesia.

Garuda vs. Citilink: Margin Tipis di Maskapai Full Service
Sebagai maskapai full service, Garuda Indonesia menawarkan berbagai fasilitas tambahan seperti makanan ringan hingga makanan berat kepada penumpang. Hal ini berbeda dengan Citilink yang beroperasi sebagai maskapai low-cost carrier (LCC) dengan tarif lebih rendah.

“Margin keuntungan kami sangat tipis, hanya sekitar 6 persen dari total pendapatan. Sebagai maskapai full service, biaya kami lebih besar dibandingkan maskapai LCC seperti Citilink yang masih memiliki margin sekitar 16 persen,” ungkap Wamildan.

Baca Juga: DPP PATRIA Bahas Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Yang Berhadapan Dengan Hukum dan HAM

Meski dihadapkan pada tantangan operasional yang besar, Wamildan menegaskan bahwa Garuda Indonesia tetap berkomitmen memberikan layanan terbaik sesuai standar maskapai full service.

Komitmen Garuda untuk Penumpang
Dengan tantangan operasional yang tinggi, Garuda Indonesia tetap berupaya menjaga kualitas layanan tanpa mengurangi kenyamanan penumpang. Wamildan berharap masyarakat memahami komponen biaya yang membuat harga tiket pesawat tinggi, terutama untuk maskapai premium seperti Garuda.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Yohanes Seo

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sasando Dia, Sinergi Perkuat Ekonomi NTT

Selasa, 3 Maret 2026 | 21:05 WIB
X