NTTHits.com, Kendari - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung dalam perhelatan Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia 2024 (FESyar KTI 2024) yang diselenggarakan sejak 8-10 Juli 2024 di Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra) menyampaikan empat tantangan pengembangan Ekonomi Syariah (Eksyar).
"Ada empat tantangan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia,"kata Juda Agung, saat membuka FESyar KTI 2024.
Dalam rilis tertulis BI, Jumat, 12 Juli 2024, Deputi Gubernur BI, Juda Agung menyampaikan empat tantangan pengembangan ekonomi syariah tersebut yakni, masih tinggi ketergantungan bahan baku halal dari luar negeri seperti bahan pangan yang belum bersertifikasi halal.
Inovasi keuangan syariah masih terbatas pada basis investor yang belum kuat dan potensi pasar yang besar dari dalam negeri belum tergarap dengan baik di tengah potensi Indonesia sebagai pusat modest fashion dunia.
Tantangan lainnya yakni, masih rendahnya tingkat literasi produk dan ekonomi syariah yang baru mencapai 28persen. Ke depan di tahun 2025, BI berupaya untuk meningkatkan literasi hingga 50persen.
Kepala BI NTT, Agus Sistyo Widjajati mengatakan pentingnya penguatan literasi, inklusi hingga kompetensi UMKM dalam sektor ekonomi syariah seperti halal food, modest fashion hingga pariwisata ramah muslim, oleh karena itu, BI NTT mendukung penuh pengembangan ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di NTT.
NTT memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa seperti sumber makanan sehat dan halal, tenun sebagai bahan pakaian yang ramah lingkungan hingga destinasi pariwisata prioritas.
“Potensi NTT yang luar biasa harus terus dikembangkan, menangkap peluang-peluang pertumbuhan ekonomi baru seperti ekonomi syariah, demi NTT yang maju dan sejahtera!”tutup Agus
Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia 2024 (FESyar KTI 2024) digelar dalam rangka mendorong sumber pertumbuhan ekonomi baru, bersama dengan 19 Kantor Perwakilan BI dan mitra strategis, yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan dan pertumbuhan ekonomi syariah melalui sejumlah program ekonomi syariah di Kawasan Timur Indonesia (KTI).