Habemus Papam! Kardinal Robert Prevost Jadi Paus Leo XIV, Inilah Makna di Balik Namanya

photo author
Yohanes Seo, NTT Hits
- Jumat, 9 Mei 2025 | 19:39 WIB
Robert Francis Prevost terpilih sebagai Paus baru dengan memilih nama Paus Leo XIV. (press.vatican.va)
Robert Francis Prevost terpilih sebagai Paus baru dengan memilih nama Paus Leo XIV. (press.vatican.va)

NTTHits.com, Vatikan – Habemus Papam! Dunia Katolik kini resmi memiliki pemimpin baru setelah wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025.

Setelah dua hari proses konklaf yang digelar tertutup di Kapel Sistina dan diikuti oleh 133 kardinal dari 70 negara, akhirnya pada Kamis malam, 8 Mei 2025 pukul 18.00 waktu Vatikan (23.00 WIB), Kardinal Robert Francis Prevost asal Amerika Serikat terpilih sebagai Paus ke-267 dalam sejarah Gereja Katolik.

Yang menarik, Prevost memilih nama kepausan Leo XIV, menjadikannya penerus ke-14 dari tradisi nama "Leo" yang sarat makna sejarah dan simbolisme kuat dalam Gereja Katolik.

Baca Juga: Mengapa Kekayaan Paus Fransiskus Hanya Rp2,2 Juta? Ini Fakta Soal Gaji Seorang Bapa Suci

Mengapa Nama "Leo"?

Nama "Leo" bukan sekadar pilihan biasa. Sebelum Prevost, Paus terakhir yang memakai nama ini adalah Leo XIII (1878–1903), yang dikenal luas lewat ensiklik Rerum Novarum—dokumen penting yang meletakkan dasar ajaran sosial Gereja Katolik modern.

Namun bukan hanya itu, banyak yang menilai pilihan nama ini juga merupakan penghormatan terhadap Paus Leo I, salah satu Paus besar Gereja yang memimpin di abad ke-5. Leo I dikenang sebagai pemimpin yang berani menghadapi ancaman besar, termasuk mencegah invasi Roma oleh Attila the Hun—salah satu peristiwa monumental dalam sejarah Kristen dan Kekaisaran Romawi.

Dengan memilih nama Leo XIV, Paus Prevost tampaknya ingin menghidupkan kembali semangat keberanian, pembaruan sosial, dan kepemimpinan moral yang mewarnai jejak para pendahulunya.

Baca Juga: Jadi Utusan Khusus Prabowo, Ini Doa Haru Jokowi untuk Paus Fransiskus

Siapa Paus Baru Ini?

Robert Francis Prevost dikenal sebagai sosok intelektual, rendah hati, dan progresif. Sebelum menjadi Paus, ia menjabat sebagai Prefek Dikasteri untuk Uskup di Vatikan, posisi penting yang mengawasi pengangkatan uskup-uskup di seluruh dunia.

Pemilihan Paus dari Amerika Serikat ini menandai babak baru bagi Gereja Katolik global, sekaligus memperkuat citra Vatikan yang semakin inklusif dan terbuka terhadap perubahan zaman.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yohanes Seo

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X