Rencana ini memicu aksi protes besar-besaran di Jerman. Pada 16 Januari 2024, puluhan ribu orang turun ke jalan, menyerukan pembubaran AfD dan penolakan terhadap ide-ide radikal mereka.
“Melarang AfD dan mencabut hak-hak dasar anggotanya adalah langkah yang perlu diambil untuk melindungi demokrasi,” ujar seorang pengunjuk rasa dari aliansi Hand in Hand.
Baca Juga: Bank NTT, Konflik Kepengurusan Memicu Kekhawatiran Publik
Teror Neo-Nazi di Jerman: Luka Lama yang Belum Sembuh
AfD dan Neo-Nazi bukan sekadar isu politik, melainkan ancaman nyata bagi keamanan Jerman. Menteri Dalam Negeri Jerman, Nancy Faeser, menegaskan bahwa serangan teror Neo-Nazi adalah “aib besar” bagi negara.
“Pembunuhan oleh teroris Neo-Nazi dan kegagalan negara untuk menyelidikinya dengan benar adalah noda dalam sejarah kita,” ujarnya pada November 2024.
Dalam rentang 2000–2007, serangan kelompok Neo-Nazi telah merenggut nyawa 10 orang, sebagian besar dari komunitas Turki. Hingga kini, banyak dari kasus tersebut belum terpecahkan.
Respons Dunia Terhadap Musk
Gaya hormat ala Nazi di Washington dan dukungan Musk untuk AfD kini menjadi perbincangan hangat di berbagai belahan dunia. Sementara sebagian orang memuji keberanian Musk untuk “berpikir berbeda,” banyak pihak mengkritiknya karena dianggap mengabaikan nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan.
Bagi seorang inovator global seperti Musk, langkah ini mungkin dimaksudkan untuk membawa perubahan. Namun, apakah perubahan tersebut akan membawa dampak positif atau malah memecah belah, masih menjadi tanda tanya besar. ***