NTTHits.com, Kupang - Sebanyak 1.341 anak usia Bawah Lima Tahun (Balita) di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami stunting dan masalah gizi buruk.
"Memang kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Oesapa masih cukup tinggi dan menjadi pekerjaan rumah bagi kita bersama,"kata Kepala Puskesmas Oesapa, dr.Ovlian Manafe, Senin, 14 Oktober 2024.
Baca Juga: Kota Kupang Implementasi Gerakan Kemanusiaan Atasi Stunting di 12 Puskesmas
Dari total jumlah anak yang diukur sebanyak 3.908 anak,1.241 anak di nyatakan mengalami masalah kesehatan yakni stunting sebanyak 925 dengan prevelensi sebesar 23,67persen, sementara anak balita dengan status masalah gizi buruk tercatat sebanyak 416anak atau sebesar 10,64persen.
Selain masalah stunting dan gizi buruk, tercatat pula dari sebanyak 1.151 ibu hamil, 153 orang atau sebesar 13,29persen diantaranya beresiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang bisa mengganggu kesehatan ibu dan pertumbuhan janin dalam kandungan.
"Secara keseluruhan untuk kasus stunting, gizi buruk dan ibu hamil KEK, kami telah maksimal melakukan intervensi spesifik dan intervensi sensitif,"tambah dr.Ovlian.
Salah satu orangtua Balita Stunting, Selia Tago, mengatakan, saat anaknya dinyatakan masuk dalam kategori anak stunting karena kondisi tumbuh anak tidak sesuai dengan umur, akhirnya di periksa oleh dokter anak dan diberi susu PKMK 4kali sehari sesuai anjuran dokter. Dalam kurun waktu 1 bulan berat badan dan tinggi badan anak perlahan mulai naik dan kini telah dinyatakan bebas stunting karena berat dan tinggi badan sesuai dengan usia anak.
Selain pemberian susu khusus bagi balita stunting, para orangtua juga di beri edukasi bagaimana cara memberikan asupan gizi, pola makan, serta pola asuh yang ideal dan tepat bagi balita.
"Saya berharap program ini tetap ada, sehingga generasi kedepan menjadi generasi yang lebih baik dan lebih sehat,"kata Selia.
Puskesmas Oesapa telah melakukan beberapa intervensi dalam penanganan kasus stunting dan gizi buruk yakni, intervensi spesifik yakni melakukan perawatan gizi buruk dengan Formula Ready to Use Therapetic Food (RUTF) atau makanan khusus untuk mengatasi balita sangat kurus dan pemberian F100, bahan dasar susu skim untuk pasien dengan gizi kurang atau gizi buruk, merujuk balita gizi buruk dengan komplikasi ke rumah sakit, pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal bagi balita gizi kurang dan ibu hamil KEK, tata laksana balita stunting dengan susu Pangan Olahan untuk Kondisi Medis Khusus (PKMK) di bawah pengawasan dokter, dan edukasi gizi.
Intervensi sensitif, kunjungan lintas sektor di wilayah setempat ke balita dengan masalah gizi, pemberian PMT penyuluhan melalui anggaranpemeintah dan pmt bagi keluarga tidak mampu, bantuan donatur , mobilisasi pihak lain lewat CSR guna mensuport pendampingan gizi buruk, susu dan sembako, melibatkan kampus-kampus kesehatan untuk pendampingan keluarga beresiko masalah gizi. (*)