NTTHits.com, Kupang - Nusa Tenggara Timur (NTT) menduduki peringkat ke-2 tertinggi kasus stunting dan urutan ke-3 predikat miskin ekstrem di Indonesia.
"Presentasi NTT memimpin, yang satu kemiskinan ekstrem yang satu stunting, kalau jumlahnya seperti ini, harus kita masukkan sebagai bencana kemanusiaan non alam,"tandas Pj Gubernur NTT, Andriko Noto Susanto, Kamis, 26 September 2024.
Baca Juga: Warga Malaka Diduga Korban Perdagangan Manusia Diselamatkan di Medan
Kasus stunting sudah semestinya dikategorikan sebagai bencana kemanusiaan karena, menurut dia, ada sekian banyak anak kekurangan gizi kronis menyebabkan gangguan fisik dan mental.
Dirinya tak ingin NTT dikelompokkan dengan Papua karena NTT memiliki sumber daya manusia, sumber daya alam, keindahan alam yang luar biasa yang dapat di kelola untuk mmembebaskan NTT dari miskin esktrem dan kasus stunting.
"Sebelumnya NTT yang paling tinggi, sekarang kita turun 37,9persen, ini harus kita selesaikan berbarengan,"kata Andriko.
Baca Juga: Realisasi Investasi Kota Kupang Baru Capai 64,73 Persen Dari Target Rp.1,05 Triliun
Data kasus stunting di NTT mencapai 37,9 persen setelah Papua Tengah diperingkat pertama sebesar 39,2persen, sementara predikat miskin ekstrem dengan menduduki peringkat ke 3 mencapai 6,56persen, setelah Papua sebesar 7,67persen dan Papua Barat 6,43persen
Kemiskinan ekstrem di NTT tahun 2022 sebesar 3,93persen dengan beberapa kabupaten yang tingkat kemiskinan ekstrem yakni, Malaka, Nagakeo, Ngada, Flores Timur dan Kabupaten Sikka.
2023, data kemiskinan estrem di NTT naik dari 3,93persen menjadi 6,56persen, dengan tingkat kemiskinan ekstrem terendah masih terjadi di kabupaten Malaka, Nagakeo, Ngada dan Flores Timur termasuk Kota Kupang.
Baca Juga: Kupang Investment Forum II, Strategi Pemkot Mudahkan Akses Investasi
Penanganan miskin ekstrem dan kasus stunting Pemerintah NTT saat ini sedang berupaya melaksanakan program Gerakan Kemanusiaan Penanganan Stunting (GKPS) sebagai aksi kolaborasi diantaranya desa B2SA atau Gerakan Konsumsi Pangan Beragam Bergizi Seimbang dan Aman, melakukan sosialisasi pangan lokal NTT seperti jagung, aneka ubi, kacang, protein hewani dan nabati.
Edukasi siswa, mahasiswa, guru dan dosen, pemberdayaan UMKM pangan lokal, serta partisipasi Forkopimda, BUMN, BUMD, Asosiasi dan NGO.
Air bersih, pemberdayaan perempuan, sanitasi lingkungan, pola asuh, pemberian makanan tambahan, orang tua asuh dan program Berlian "Bersama Lindungi Anak". (*)