NTTHits.com, Kupang - Para kader posyandu dan guru pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), diberi pelatihan bagaimana melakukan screening awal atau deteksi dini terhadap penyakit Tuberkulosis (TBC) pada anak.
"Para guru PAUD dan kader ini dilatih, supaya bisa melakukan deteksi dini pada anak yang dicurigai menderita TBC,"kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, Retnowati.
Baca Juga: Lagi, Bripka Virmon Beri Penghargaan Duta Anti KDRT Untuk Pasangan Pengantin Binaannya
Menurut dia, kasus TBC di dunia, Indonesia menduduki peringkat kedua tertinggi setelah negara India, karena kasus TBC merupakan penyakit yang pengobatannya memerlukan jangka waktu yang panjang, yakni minum obat selama enam bulan tanpa terputus oleh penderita yang mungkin mengalami rasa bosan dan bisa lupa sehingga perlu juga diawasi.
Jika terputus pengobatannya, maka menyebabkan bakteri tuberkolosis akan menjadi resisten atau kebal, sehingga apabila kebal, pengobatannya pun juga bertambah lagi yakni selama tiga bulan.
Baca Juga: Apel Kesadaran, Anggota KORPRI Diminta Beri Layanan Tanpa Pandang Suku, Agama dan Ras
Selain itu, TB pada anak termasuk infeksi laten, bakteri Mycobacterium tuberculosis ada namun tidak menunjukkan gejala, orangtua yang menderita TBC juga tidak tahu anaknya tertular, karena penularannyapun sangat cepat, sehingga dalam proses screening dalam satu lingkungan rumah penderita TB minimal 8-20 orang disekitar wajib diperiksa.
"TBC pada anak termasuk infeksi laten, bakterinya ada namun tidak menunjukkan manifestasi atau gejala, bahkan orangtua yang menderita TBCpun tidak tahu kalau anaknya tertular,"tambah Retnowati.
Baca Juga: ASN dan PTT Pemkot Kupang Bebas Dari Gerakan Pungut Sampah Setiap Hari
Berbagai kasus kesehatan seperti stunting juga bukan hanya persoalan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), namun apakah anak memiliki penyakit penyerta seperti TBC, cacingan, diare, dan penyakit kronis lainnya sehingga anak sulit sekali tumbuh kembang dengan sempurna.(*)