Hal itu diakui A.
"Ketika permintaan dari perbatasan meningkat, sementara dari kabupaten sudah tidak menyanggupi untuk menyuplai BBM dalam jumlah yang besar, maka melalui kerjasama mereka, terjadilah penimbunan BBM di kota Kupang. BBM yang dikirim ke perbatasan, dipasok dari Kupang juga. Itu bisa terjadi karena ada kerjasama antara pengusaha dan diduga pihak Krimsus Polda NTT. Kemudian dari Krimsus kerjasama lagi dengan Kapolres - Kapolres di beberapa kabupaten. Itu Kapolres TTU dan Kanit Busernya, termasuk Kapolsek Miomaffo Timur adalah penyumbang / penyuplai BBM ke perbatasan", beber A.
Disinilah, katanya jelas ada keterlibatan si pengusaha.
HT juga, diduga telah membangun kerjasama dengan pihak Pemerintah Distrik Otonomi Oecusse, Timor Leste.
"Mereka ada kerja proyek Rp1,7 triliun. Pengusaha HT tidak mampu membeli minyak dari Timor Leste. Sehingga dia berkoordinasi dengan pihak krimsus Polda NTT untuk menyuplai minyak dari Kupang ke wilayah perbatasan", ulas A memperjelas.
Dalam mafia BBM ini, salah satu saksi kunci yang disebutkan A, yakni pengusaha Richard, dari PT. Brantas yang sementara mengerjakan proyek APBN di perbatasan.
Baca Juga: BI NTT Umumkan Para Juara Teknokreasi Competition 2024, Dorong Pemanfaatan Potensi Komoditas
"Ini fakta, suplay 260 ribu ton BBM subsidi yang ada di kota Kupang, 70% nya lari ke perbatasan", ungkap A.
Modus operandi dalam mafia BBM Subsidi ini, punya jaringan yakni semua nelayan yang memiliki kapal besar dengan daya tampung 5 ton.
Jika satu pengusaha saja memiliki 4 kapal maka kapasitas penampungannya mencapai 20 ton.
Sebut saja jika nelayan di kota Kupang ada 50 orang, maka untuk bisa menyedot 260 ribu ton BBM Subsidi itu dapat disanggupi untuk memenuhi kebutuhan proyek perbatasan APBN dan proyek Tiles yang saat ini sedang digarap pengusaha Richard dari PT. Brantas.
Kesepakatan terkait dugaan mafia BBM ini juga melibatkan salah satu pengusaha Timor Leste, Aviku. Sehingga ada kesepakatan kerjasama antara si pengusaha yang mengkoordinir dugaan mafia BBM dengan pihak pengusaha HT dan pemerintah Timor Leste.
Mafia BBM yang sangat merugikan banyak pihak terutama negera ini pun ditanggapi sumber terpercaya A, mewakili seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur dengan meminta Kapolda NTT, Irjen Pol. Daniel Tahi Monang Silitonga, S.H., M.A. untuk mengusut tuntas kejahatan niaga yang sudah viral pemberitaannya di sejumlah media online akhir - akhir ini.
"Pengepulan itu terjadi dimana - mana, pendropingan ke perbatasan Timor Leste dan negara Timor Leste juga diduga dikawal anggota.
Bapak Kapolda NTT, bagaimana bapak Kapolda sebagai mantan Direktur Pidana tertentu melihat kelangkaan solar subsidi yang berdasarkan investigasi media dalam pemberitaan, dibawa masuk ke wilayah perbatasan bahkan negara Timor Leste yang sementara menggarap jalan - jalan negara yang besar dan membutuhkan ratusan ribu ton BBM", katanya.