NTTHits.com, Washington – Nama Elon Musk kembali jadi sorotan dunia. Kali ini, bukan karena teknologi luar angkasa atau kendaraan listrik revolusionernya, melainkan karena gerakan kontroversial yang ia lakukan saat menghadiri pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.
Di acara yang berlangsung di Capital One Arena, Washington D.C., Musk terekam melakukan gestur yang dianggap menyerupai penghormatan ala Nazi Jerman. Dengan lengan kanan terangkat diagonal ke atas dan tangan kiri menepuk dada, Musk mengucapkan kalimat yang membuat publik terhenyak:
“Berkat Anda, masa depan peradaban akan terjamin. Berkat Anda, kita akan memiliki kota-kota yang aman, hal-hal mendasar, dan kita akan membawa 'Doge' ke Mars.”
Sorakan meriah dari kerumunan pendukung Trump memenuhi arena, tetapi tak lama setelah itu, kontroversi pun memuncak.
Baca Juga: Elon Musk Picu Kontroversi, Hormat Ala Nazi dan Dukungan ke Partai Neo-Nazi di Jerman
Dukungan untuk Trump dan Peran Baru Musk
Elon Musk kini menjabat sebagai pemimpin US Department of Government Efficiency, sebuah lembaga baru di era pemerintahan Trump. Bersama Vivek Ramaswamy, mantan kandidat presiden dari Partai Republik, Musk dipercaya untuk memangkas pengeluaran pemerintah dan merombak regulasi yang dianggap menghambat efisiensi birokrasi.
“Kami akan mengguncang sistem, dan siapa pun yang terlibat dalam pemborosan anggaran akan menghadapi dampaknya,” tegas Musk dalam pidatonya.
Namun, kontroversi gaya hormat ala Nazi yang dilakukannya tampaknya lebih banyak menyita perhatian daripada tugas barunya.
Baca Juga: Sinergi PNM dan BPOM, UMKM Pangan Lokal Siap Mendunia
Dukungan Elon Musk untuk Partai Neo-Nazi di Jerman
Sisi lain dari cerita ini adalah jejak politik Musk di Jerman. Pada 10 Januari 2025, Musk secara terbuka mendukung Alternative for Germany (AfD), sebuah partai sayap kanan yang dicurigai memiliki hubungan dengan Neo-Nazi.
“Hanya AfD yang bisa menyelamatkan Jerman. Jika Anda tidak mendukung mereka, keadaan akan menjadi jauh lebih buruk,” ujar Musk dalam siaran langsung di platform X bersama Alice Weidel, pemimpin AfD.
Pernyataan ini memicu kekhawatiran di Jerman, terutama menjelang pemilu pada Februari 2025. AfD dikenal dengan agenda anti-imigran dan retorika ultranasionalis yang kerap memancing kontroversi.
Baca Juga: PNM Mekaar, Limbah Jadi Berkah, Industri Kreatif Ibu-Ibu Makassar Menginspirasi
AfD dan Rencana Deportasi Massal
AfD bukan sekadar partai konservatif biasa. Berdasarkan laporan dari Correctiv, sebuah media investigasi Jerman, partai ini diduga pernah menggelar pertemuan tertutup dengan kelompok Neo-Nazi pada Januari 2024. Agenda mereka? Membahas "remigrasi," yakni deportasi massal imigran dan keturunan mereka yang telah menjadi warga negara Jerman, jika dianggap gagal “beradaptasi” dengan budaya mayoritas.