NTTHits.com, Kupang - Kemelut krisis iklim mencekam bumi pertiwi, polusi udara Ibu kota merintih mengikis perlahan mimpi anak - anak bangsa, paparan polusi udara yang tinggi mampu meluluhlantakan perkembangan tubuh dan otak anak-anak kita, Anak Indonesia.
Polusi Jakarta menjadi fenomena dan pemberitaan di media - media mainstream bahkan jadi perbincangan hangat warganet berbagai platform media sosial, merasuk hingga ke pelosok -pelosok wilayah Indonesia tak luput jadi topik seluruh kalangan, keprihatinan dan gambaran menakutkan dampak bahaya kesehatan dan hak anak yang terabaikan, akibat udara yang dihirup dan alam yang ditempati tak lagi layak.
Data Nafas Indonesia 2023, menyebutkan, ribuan studi sudah membuktikan bahwa paparan polusi udara yang tinggi dapat mempengaruhi perkembangan tubuh dan otak anak. Dampak jangka pendek polusi udara dapat menimbulkan ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder, gangguan mental yang menyebabkan anak sulit memusatkan perhatian, serta memiliki perilaku impulsif dan hiperaktif, dari sisi medis menyerang bagian tubuh hidung dengan influenza, Rhinitis, jantung, Serangan jantung dan Aritmia, paru -paru dengan Asthma, Bronkiolitis, kulit dengan Atopic dermatitis (eksim), jerawat, penuaan dini.
Dampak jangka panjang dapat menyerang otak, mengakibatkan Alzheimer, Parkinson, Stroke, penurunan kognitif, merusak paru-paru dengan Pneumonia, Kanker paru-paru, Asthma, menganggu rahim mengakibatkan kelahiran prematur dan dapat membawa dampak penyumbatan darah pada seluruh tubuh.
ADHD, influenza, dan peningkatan serangan asma adalah tiga dari ratusan efek paparan polusi PM2.5 kepada anak-anak. PM2.5 adalah partikel padat polusi udara berukuran kurang dari 2,5 mikrometer atau 36x lebih kecil dari diameter sebutir pasir. Ukuran PM2.5 yang sangat kecil membuat partikel polusi ini tidak dapat disaring oleh tubuh kita. Polusi PM2.5 dapat menimbulkan beragam masalah kesehatan seperti kelahiran prematur, asma, batuk dan sesak napas, jantung koroner, diabetes, hingga kanker paru-paru.
Lain kondisi Jakarta, lain pula kondisi di NTT khususnya Kota Kupang dengan slogan kota Kasih.
Perubahan iklim membawa dampak kemana-mana, potret pembangkrutan dan penghancuran Sumber Daya Alam, eksploitasi berlebihan menyebabkan sumber mata air menjadi kering, berkurangnnya lahan kawasan hutan sebagai penopang kebutuhan air yang penting dalam siklus hidrologi suatu daerah aliran sungai mengakibatkan menurunnya potensi sumber daya air, ditambah iklim yang kering antara bulan Juni-Oktober menjadi musim kemarau panjang, air bersih menjadi sesuatu yang langka.
Langkanya air bersih mengakibatkan sistem sanitasi yang buruk berimbas pada munculnya berbagai kasus, NTT terkenal sebagai kantong penyumbang kasus stunting tertinggi di Indonesia. Kota Kupang sebagai kota provinsi pun tak luput dari tingginya bayi dan anak balita mengalami stunting dan gizi buruk.
Data Dinas Kesehatan Kota Kupang, jumlah Balita dengan kasus stunting tiap tahun tetap berada pada dua digit, begitu juga dengan kematian ibu dan bayi.
Data Oktober 2021, tercatat Kota Kupang berada di angka 26,2persen atau sebanyak 25.089 kasus stunting sementara kasus kematian ibu sebanyak 8 kasus dan kematian bayi, tercatat 22 kasus.
Desember 2022, kasus berada di angka 21,5persen atau sebanyak 5.497 balita mengalami stunting, jumlah kematian ibu sebanyak 8 kasus dan kematian bayi berada diangka 22 kasus.
Juni 2023, tercatat kasus stunting kota Kupang berada di 19,03persen atau sebanyak 4.543 balita, angka kematian bayi tercatat 14 kasus, sementara angka kasus kematian Ibu belum ada.
Demikian juga ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK) tercatat sebanyak 1.300 orang, Ibu hamil dengan KEK memiliki dampak yang kurang baik bagi ibu dan bayi yang dikandung. Dampaknya seperti perdarahan setelah melahirkan dan bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki risiko gangguan pertumbuhan atau mengalami stunting.
"Pola hidup, makanan, sanitasi dan air bersih menjadi faktor-faktor pendukung kasus stunting di Kota Kupang yang masih berada di dua digit angka kasus,"kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, Retnowati, Kamis, 31 Agustus 2023.