NTTHits.com, Kupang - Terdapat tiga arah kebijakan dan implementasi program utama Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Timur (NTT) sepanjang tahun 2025 yang memerlukan dukungan dari stakeholders mitra.
Stakeholders mitra diantaranya kelompok tani dan kelompok wanita tani (KWT), UMKM dan koperasi, asosiasi pelaku usaha (offtaker), pengelola desa wisata, masyarakat umum, Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP), sport community, mahasiswa/ mahasiswi, perpustakaan daerah, Kelompok Tani (Poktan), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
"BI NTT selalu berjalan, bermitra dan bersinergi dengan pemerintah provinsi NTT, pemda kabupaten/kota, instasi vertikal, perbankan, akademisi dan asosiasi pelaku usaha,"kata Kepala Kantor Perwakilan BI NTT, Agus Sistyo Widjajati dalam SasandoDia, Kamis, 30 Januari 2025.
Adapun 3 arah kebijakan dan implementasi program BI NTT tahun 2025 yakni pertama, mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan, hilirisasi komoditas unggulan seiring dengan penguatan produktivitas sektor pertanian, optimalisasi nilai tambah sektor pariwisata, dan penguatan daya tarik investasi provinsi NTT.
Baca Juga: Satgas PASTI OJK Blokir 796 Entitas Ilegal
Kedua, akselerasi infrastruktur Sistem Pembayaran (SP) untuk efesiensi ekonomi NTT, dengan program unggulan, penguatan infrastruktur jaringan SP digital, perluasan akseptasi penggunaan QRIS, penguatan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah.
Ketiga, memperkuat daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) NTT diantaranya melalui program beasiswa SDM Unggul, edukasi, sosialisasi dan event literasi, serta sertifikasi tepat guna dan tepat sasaran.
"BI berjalan bersama pemerintah baru, baik dalam kerangka Asta Cita Kabinet Merah Putih maupun Dasa Cita provinsi NTT, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,"tambah Agus.
Kebijakan BI NTT juga bersinergi dengan bauran kebijakan ekonomi nasional yang lebih berdaya tahan, investasi tetap membaik, khususnya investasi bangunan sejalan dengan penyelesaian berbagai Proyek Startegis Nasional (PSN).
Konsumsi RT tetap terjaga baik, terutama untuk kelas menengah ke atas. Ekspor nonmigas tumbuh relatif tinggi di tengah perlambatan ekonomi global dan penurunan harga komoditas. Inflasi akan tetap terjaga pada sasarannya, didukung sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP)/Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang semakin baik, serta berbagai sinergi inovasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). (*)
.