"Kami ingin memastikan setiap dapur memenuhi standar, mulai dari bangunan fisik, alur persiapan makanan, hingga proses distribusi ke penerima manfaat," jelas Nuriana.
Sementara itu, ahli gizi BGN, Hurin Safira, mengingatkan para pengelola dapur untuk mematuhi SOP agar kualitas gizi makanan tetap terjaga.
"Kami mendorong adanya komunikasi yang baik antara pengelola dapur dan ahli gizi di lapangan. Setiap bahan makanan yang diproses harus bernilai gizi tinggi agar anak-anak mendapatkan manfaat maksimal," tegas Hurin.
Rangkaian Kunjungan di NTT
Selama tiga hari monev, tim Sistakol mengunjungi sejumlah dapur di berbagai wilayah:
???? Hari Pertama: Dapur Kelapa Lima 1, Oesapa, Kelapa Lima 2, Oebobo 1, Oebobo 2, dan Alak di Kota Kupang.
???? Hari Kedua: Dapur Soe Kota (Kabupaten TTS), Dapur Naiola Bikomi Selatan, Yabiku, dan Maubesi Insana (Kabupaten TTU).
???? Hari Ketiga: Dapur Beirafu, Kuneru, Fatubenao, Motabuik, Kimbana, dan Raimanuk (Kabupaten Belu).
Baca Juga: Kepala BGN Gerak Cepat Klarifikasi Isu Anggaran MBG: Bukan Korupsi, Memang Ada Perbedaan Sejak Awal
Kegiatan ini turut didampingi oleh sejumlah tokoh, di antaranya Fransiskus C. Teda (PIC Dapur MBG se-Flores Raya), Kristo Tpoy (Perwakilan SPPI NTT), Jim Sarmento (Mitra MBG Kota Kupang), dan Isidorus Lilijawa (Tim Media BGN Zona NTT).
Dengan hadirnya program Makan Bergizi Gratis, diharapkan anak-anak di wilayah perbatasan, khususnya Kabupaten Belu, dapat tumbuh sehat, cerdas, dan siap menjadi generasi unggul masa depan.***