humaniora

KPK Cium Praktik ‘Pilih Kasih’ di Dapur MBG: Dari Pembangunan hingga Bahan Baku Disorot

Sabtu, 8 Maret 2025 | 18:56 WIB
Ilustrasi MBG. (Dok. Google)

NTTHits.com, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan pemerintah kini kembali menjadi sorotan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap dugaan praktik ‘pilih kasih’ dalam penentuan pihak yang bertanggung jawab atas dapur penyedia makanan, yang dikenal sebagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Program yang mengalokasikan Rp71 triliun untuk tahun 2025 ini berpotensi mendapat tambahan Rp100 triliun jika percepatan dilakukan pertengahan tahun. Dengan anggaran sebesar itu, potensi penyimpangan menjadi perhatian serius KPK.

Baca Juga: KPK Cium Praktik Curang di Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Anggaran Rp10.000 Diam-diam Dipangkas Jadi Rp8.000

KPK Cium Praktik Curang di Balik Dapur MBG

Ketua KPK, Setyo Budiyanto, mengungkapkan pihaknya menerima laporan tentang adanya pihak tertentu yang diduga mendapat perlakuan istimewa dalam penentuan SPPG.

"Ada kabar beredar soal pihak tertentu yang mendapatkan perlakuan khusus dalam penentuan SPPG, baik terkait pembangunan fisiknya maupun pemilihan bahan bakunya. Ini tentu menjadi perhatian untuk ditertibkan," tegas Setyo dalam keterangannya, Jumat (7/3/2025).

Selain itu, KPK juga menyoroti penempatan lokasi SPPG yang dinilai tidak strategis, sehingga berpotensi memengaruhi kualitas makanan yang diterima oleh para penerima manfaat.

"Penempatan lokasi sangat penting. Jika terlalu jauh atau tidak strategis, kualitas makanan bisa menurun sebelum sampai ke tangan masyarakat," jelasnya.

Baca Juga: Program MBG di Rote Ndao Tuai Pujian Kepala Sekolah dan Siswa

Menu MBG Juga Disorot: Susu dan Biskuit Jadi Perhatian

Tak hanya soal dapur dan bahan baku, KPK juga menyoroti komposisi menu yang disajikan dalam program MBG.

Menurut kajian KPK, program pemberian susu dan biskuit yang sebelumnya dijalankan pemerintah dinilai kurang efektif dalam menurunkan angka stunting.

"Kami melihat dalam program sebelumnya, lebih banyak biskuit yang diterima masyarakat dibanding susu. Akibatnya, penurunan angka stunting tidak signifikan," ungkap Setyo.

KPK menegaskan agar menu makanan yang diberikan benar-benar dikaji dengan baik dan disesuaikan dengan kebutuhan gizi anak-anak dan ibu hamil.

"Kami harap ke depan tidak terjadi lagi kesalahan yang sama. Pastikan makanan yang sampai ke masyarakat benar-benar berkualitas dan bergizi," tegasnya.

Baca Juga: Mitra Baru Minim Pengalaman, Kepala Badan Gizi Nasional Ungkap Penyebab Kasus Keracunan MBG

Halaman:

Tags

Terkini