humaniora

Mitra Baru Minim Pengalaman, Kepala Badan Gizi Nasional Ungkap Penyebab Kasus Keracunan MBG

Jumat, 28 Februari 2025 | 08:30 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional menyebut penyebab keracunan MBG karena mitra yang belum berpengalaman. (Instagram/badangizinasional.ri)

NTTHits.com, Jakarta – Beberapa kali insiden keracunan makanan pada siswa sekolah mencuat setelah mereka mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, akhirnya buka suara dan mengungkapkan penyebab utama kejadian ini. Menurutnya, insiden keracunan lebih sering terjadi pada mitra baru yang belum berpengalaman dalam memasak dalam jumlah besar.

Mitra Baru Kesulitan Menyesuaikan Diri

Dadan menjelaskan bahwa mitra yang sudah lama bergabung dalam program ini tidak mengalami kendala serupa, karena mereka telah terbiasa menyiapkan makanan dalam porsi besar.

Baca Juga: Ancaman Pembakaran Sekolah di Papua Gegara MBG, Menhan: “Ini Kemanusiaan, Bukan Politik!”

"Rata-rata yang muncul di berita terakhir ini adalah satuan pelayanan yang baru melaksanakan. Yang sudah lama tidak mengalami masalah karena mereka sudah terbiasa," kata Dadan saat menghadiri acara di Kompleks Akademi Militer, Magelang, Kamis (27/2/2025).

Menurutnya, SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang baru bergabung belum memiliki pengalaman dalam memasak skala besar. Akibatnya, makanan yang mereka sajikan terkadang belum matang sempurna, yang bisa menyebabkan kasus keracunan.

Baca Juga: Sri Mulyani Tanggapi Permintaan BGN Tambah Anggaran MBG Rp100 Triliun, Ungkap Manfaat Besar untuk UMKM

Solusi: Memulai dari Porsi Kecil

Dadan menegaskan bahwa pengetahuan memasak saja tidak cukup untuk menjalankan program ini. Butuh pengalaman dan kebiasaan agar kualitas dan kematangan makanan tetap terjaga dalam jumlah besar.

"Mereka yang biasa memasak untuk 1-10 orang, tiba-tiba harus memasak untuk 1.000 hingga 3.000 orang. Ini membutuhkan adaptasi agar makanan matang sempurna," jelasnya.

Untuk itu, ia menyarankan agar mitra baru tidak langsung memasak dalam jumlah besar, tetapi memulai dari porsi kecil, sekitar 100-190 porsi terlebih dahulu. Dengan cara ini, mereka bisa belajar dan menyesuaikan diri sebelum menangani jumlah yang lebih besar.

Baca Juga: BI NTT - Korem 161 Wira Sakti dan Kodim 1605 Belu Kolaborasi Tanam Perdana Dukung Program MBG di Wilayah Perbatasan

Evaluasi Ketat & Pengawasan Rutin

Badan Gizi Nasional memastikan bahwa evaluasi dilakukan setiap hari guna mencegah kasus serupa terulang.

"Kami selalu mengevaluasi setiap hari dan menyarankan mitra baru agar mulai dari porsi kecil sebelum beralih ke skala besar," ujar Dadan.

Selain soal kematangan, ia juga menyoroti konsistensi rasa makanan, yang menjadi tantangan tersendiri saat memasak dalam jumlah besar.

Baca Juga: Serangga hingga Ulat Sagu Masuk Menu MBG? Begini Penjelasan Badan Gizi Nasional

Halaman:

Tags

Terkini