"Sinode berkomitmen untuk menerapkan gereja ramah anak, komitmen menjaga dan memenuhi hak anak seperti hak pendidikan dan hak hidup menjadi komitmen bersama,"tandas Ena Blegur.
Mewakili Pj Wali Kota, Staf Ahli Wali Kota Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Marlin Detaq, mengatakan, perayaan HAN ke-40 menjadi momentum penting untuk memperjuangkan perlindungan dan pemenuhan hak anak dalam setiap sektor kehidupan.
Meski, masih terdapat berbagai persoalan terkait perlindungan dan pemenuhan hak anak yang perlu segera ditangani seperti stunting, tingginya kasus kekerasan terhadap anak, pekerja anak dibawah umur dan anak putus sekolah menjadi pekerjaan rumah bersama untuk diselesaikan, namun Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang menunjukkan keseriusan dalam penanganan berbagai isu terkait perlindungan anak, generasi penerus bangsa yang nantinya menjadi pemegang kendali pemerintahan.
Baca Juga: Telkomsel Hadirkan Festival Cooltura 2024, Hibur Pelanggan Setia di Bali
Pemkot Kupang telah menyelenggarakan sejumlah program bantuan sosial, berupa beasiswa perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat, kelurahan ramah anak dan perempuan, satuan pendidikan ramah anak, pelayanan ramah anak di puskesmas, pusat kreativitas rumah ibadah ramah anak serta program - program penanganan stunting.
"Kami sadar untuk upaya ini, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri, membutuhkan dukungan dan keterlibatan semua pihak, sekolah, masyarakat sekitar juga lembaga keagamaan,"kata Marlin.
Perwakilan anak Kota Kupang, Junior mengatakan, perayaan HAN hari ini menjadi cerita tersendiri, bagaimana mengingatkan kepada semua bahwa hak - hak anak menjadi kewajiban yang harus terpenuhi, guna melahirkan generasi yang bertumbuh kembang secara baik, bahagia, mandiri dan berakhlak.
Baca Juga: Gerindra Resmi Usung Melki Laka Lena di Pilgub NTT
"Saya sangat bersyukur dan bahagia dengan perayaan HAN hari ini, bahwa anak juga memiliki hak - hak yang harus dipenuhi, bertumbuh dan boleh menjadi berkat bagi banyak orang,"kata Junior.
Puncak perayaan HAN ke-40 di Kota Kupang di selenggarakan dengan meriah dan dirangkai dengan ibadah syukur singkat serta berbagai penampilan budaya yang ditampilkan oleh masing - masing perwakilan anak seperti permainan musik assambel, nyanyi solo, vokal grup, paduan suara, tarian kreasi dan ditutup dengan deklarasi stop kekerasan anak. (*)