Hotel Sasando adalah potret klasik dari dilema daerah: punya aset, tapi tak mampu mengelola. Terletak strategis, hanya lima menit dari Bandara El Tari, dengan beberapa kamar menghadap laut dan ruang rapat berkapasitas ratusan orang, hotel ini seharusnya bersaing.
Tapi dikepung hotel-hotel swasta yang lincah dan inovatif, daya pikat Sasando memudar, kalah dalam senyap.
Namun sejak Gubernur menginap, suasana berubah. Staf mendadak lebih sigap, makanan disajikan lebih cepat, dan petugas kebersihan lebih sering mondar-mandir. Seakan hotel yang lama tertidur itu, pelan-pelan mulai bangkit.
Baca Juga: Gubernur NTT Dorong Swasembada Pangan, Pelayanan Kesehatan, dan Mutu Pendidikan
Dari Seprai Putih ke Kebijakan Publik
Tentu, lima malam di Hotel Sasando tak akan langsung mengubah laporan keuangan daerah. Tapi langkah ini adalah pernyataan: pemimpin tak seharusnya hanya duduk di balik meja, tapi hadir langsung di titik-titik senyap pembangunan.
Ia tidur di kamar biasa, makan makanan yang disajikan staf hotel biasa, dan menginap tanpa fasilitas istimewa—semata demi memahami keadaan sesungguhnya.
Kamar 505 mungkin tak punya rahasia besar, tapi dari balik jendelanya yang menghadap Laut Timor, seorang gubernur sedang menakar denyut ekonomi daerah, satu keputusan kecil demi perubahan yang lebih besar.***