politik

Gubernur Menakar Nadi Ekonomi dari Kamar 505 Hotel Sasando

Selasa, 22 April 2025 | 10:12 WIB
Gubernur NTT saat menginap di Hotel Sasando. (Istimewa)

NTTHits.com, Kupang – Pagi itu, Selasa, 22 April 2025, aroma kopi Flores menggantung lembut di udara restoran Hotel Sasando. Dari sudut yang menghadap Laut Timor, dua sosok tampak bercakap santai.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena duduk bersebelahan dengan Kapolda NTT, Irjen Pol. Daniel Tahi Monang Silitonga, sambil menyendok bubur ayam dan menyeruput kelapa muda.

Namun pagi itu bukan pagi biasa. Petugas medis dari RS Bhayangkara Titus Uly tiba membawa tensimeter dan alat cek darah. Di tengah tatapan tamu hotel yang tengah sarapan, seorang polwan memakaikan alat tensi ke lengan gubernur.

Baca Juga: Sambut Ketua BPK RI, Gubernur NTT Tegaskan Komitmen Tata Kelola Keuangan Daerah

"120 per 80. Normal," ujar petugas. Gubernur Melki tersenyum kecil. Ia tahu, yang sedang diuji bukan cuma tekanan darahnya, tapi juga denyut nadi dari bangunan tua yang pernah menjadi kebanggaan: Hotel Sasando.

Hotel yang dulunya sibuk oleh pejabat dan pelancong, kini seperti pasien tua yang kehabisan napas. Dalam sunyi bangunannya yang lelah, Gubernur Melki memilih tinggal lima malam—mulai Minggu, 20 April hingga Jumat, 25 April—di kamar 505.

Kamarnya sederhana: kasur besar, lampu temaram, meja kerja mungil, dan shower yang sesekali ngadat. Bukan kemewahan yang ia cari, tapi realita yang ingin ia rasakan langsung.

Baca Juga: Gubernur NTT Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Paus Fransiskus

Dari Simbol ke Aksi Nyata

Keputusan menginap bukan aksi dadakan. Ia simbolik, tapi bukan sekadar simbol. Melki ingin menyelami langsung kondisi hotel milik Pemprov yang kini nyaris terlupakan. “Saya ingin tahu sendiri. Rasakan sendiri. Bagaimana pelayanan kita? Bagaimana manajemennya?” katanya.

Ia mencatat sendiri kekurangan di berbagai sudut: dari sambutan resepsionis, kecepatan pelayanan restoran, hingga kualitas rasa dalam menu sarapan. Bahkan hal-hal sepele seperti posisi tempat sampah dan bau di lorong kamar tak luput dari perhatiannya.

“Saya tidak mau kita terus biarkan hotel ini jadi aset tidur. Ini punya rakyat. Harusnya jadi sumber PAD, bukan beban,” tegasnya.

Baca Juga: Gubernur NTT Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Paus Fransiskus

Membangunkan Raksasa Tidur

Halaman:

Tags

Terkini