NTTHits.com, Kefamenanu - “Saya tidak akan menggunakan gaji bulanan saya sebagai Wakil Bupati Timor Tengah Utara, selama saya menjabat’’. Lebih lanjut; ‘’berikan pada kami waktu tiga setengah tahun saja untuk membangun Kuan Kefamenanu menjadi Kota Kefamenanu yang bukan hanya sebagai kota transit’’.(Ronivon Natalino Bunga-Pernyataan terbuka saat kampanye).
Dua ungkapan tulus tersebut bernada persuasif untuk mengukuhkan posisi selain untuk menggaet massa dan simpatisan.
Dalam nada yang sifatnya persuasif, ungkapan-ungkapan tersebut secara tidak langsung menunjuk pada suatu model kepemimpinan. Kepemimpinan yang mengabdi setulusnya pada rakyat. Itulah sosok Ronivon Natalino Bunga salah satu kandidat calon wakil bupati Timor Tengah Utara mendampingi David Juandi calon bupati petahana. Meskipun dalam bentuk janji, telah membuka kesadaran baru tentang suatu model pengabdian pada rakyat dan kepemimpinannya kelak.
Kepemimpinan turba (turun ke bawah) yaitu berada bersama masyarakat; berada bersama dan mengarahkan diri kepada yang lain (masyarakat), dan mengalami situasi yang sesungguhnya dialami oleh masyarakat. Dan darinya merancang gagasan, mengonstruksi strategi untuk menanggapinya dalam praksisnya.
Sosok David Juandi dan Ronivon Natalino Bunga, mau berada bersama masyarakat, melihat, merasakan dan mendengarkan kebutuhan dan keluhan masyarakat. Berada bersama yang lain bukan hanya untuk tujuan suatu perjumpaan fisis. Tidak hanya sekadar membuka mata untuk melihat. Tidak juga hanya membuka telinga untuk mendengar keluhan. Juga tidak cukup beriba dan prihatin atas ketidakberdayaan yang lain dalam situasi sulit.
Bagi paslon ini ada bersama yang lain bukan pula hanya untuk mendata secara eksaktis kekurangan yang lain. Ada bersama yang komprehensif dalam segala pergumulan hidupnya yang menuntut empati dan suatu peran aktif.
Berada bersama yang lain dalam konsep DJ-RB mendesakkan suatu tindakan partisipatif dan menuntut suatu tanggung jawab.
Berparsipasi seperti apa? Gagasan dan konsep riil berkelanjutan ala DJ-RB adalah berpartisipasi seturut perspektif Gabriel Marcel (filosof Perancis dan tokoh terkemuka eksistensialisme Kristen. 1889). Gabriel Marcel menelurkan konsepnya bahwa : berpartisipasi bukan untuk apa melainkan bersama dengan siapa.
Dalam konteks Pilkada TTU berpartisipasi yang dipopulerkan versi DJ-RB adalah berpartisipasi dengan siapa dan mesti di dibedah dalam ranah konkrit. Berpartisipasi dalam situasi yang lain bukan untuk mengobyekkan melainkan untuk memperjuangkannya dengan tetap menjadikan yang lain sebagai subyek. Paslon DJ-RB menegaskan berpartisipasi ”dengan siapa’’ bukan “untuk siapa’’. Partisipasi dengan siapa dapat menjamin suatu keterlibatan yang human.
Di dalamnya ada relasi yang human karena menampakkan citra dan harga kemanusiaan. Partisipasi yang equal dengan yang lain dan tetap menjadikan yang lain sebagai subyek.Di sini tidak ada obyektifikasi. Seorang pemimpin yang ekstensif berpartisipasi bersama yang lain untuk bersama - sama menampakkan dan menegakkan derajat serta peri kemanusiaan.
Dengan ini jelas bahwa berada bersama yang lain tidak hanya sekadar sebuah tatapan fisik, sebuah perjumpaan belaka dengan orang lain. Bukan pula hanya untuk mengekspresikan suatu rasa simpatik. Tetapi berada bersama yang lain perlu suatu partisipasi. Partisipasi mengungkapkan satu gerakan keluar dari egosentrisme menuju situasi yang lain. Dengan itu membuka ruang untuk berada dan mengada bersama.
Berpartisipasi dalam bingkai paket JUANG merupakan suatu keterlibatan sepenuh-penuhnya. Mengambil bagian dalam situasi masyarakat TTU. Berpartisipasi menunjukkan suatu kepedulian dan kepekaan bersama seluruh masyarakat TTU. Melibatkan diri dalam situasi ketidakberdayaan untuk mengangkatnya ke taraf pemberdayaan. Berpartisipasi memperjuangkan nasibnya untuk mewujudkan diri sebagai subyek merupakan solidaritas. Solidaritas terungkap di dalam kesediaan membantu, menopang dan meneguhkan yang lain sebagai subyek dihadapan situasi bahaya dan penderitaan yang mengancamnya. (Paul Budi Kleden. Teologi Terlibat. Ledalero.p.79)
Berada bersama yang lain dalam keterkungkungan situasinya, yaitu berada yang transformative dengan menunjukkan suatu keterlibatan untuk mewujudkan nasib yang lain ke arah pemberdayaaan. Keterlibatan itu harus tampak dan sampai pada solidaritas. Ketidakberdayaan yang lain dalam pergumulan hidupnya harus menjadi dorongan untuk bersikap solider. Berada bersama yang lain adalah berada untuk bersolider.
Menjadi pemimpin ekstensif berarti terbuka terhadap yang lain dan masuk dalam situasi sesungguhnya yang dialaminya untuk berpartisipasi.
Senoktah perubahan awal di bumi Biinmaffo dapat tercapai hanya jika seorang pemimpin tidak menutup diri dan berdiam di dalam rumah menara gading. Seorang pemimpin harus keluar dari egosentrismenya, kepentingan pribadinya untuk berada dan mengada bersama yang lain. Menjadi pemimpin ekstensif menunjuk pada dua gerakan mendasar. Gerakan keluar dari diri (egosentrisme) menuju dan masuk ke dalam situasi hidup yang lain. Gerakan berpartisipasi bersama dengan yang lain untuk memberdayakan yang lain sebagai subyek dalam mengentaskan situasi konkrit yang membelit.
Karena itu menjadi pemimpin ekstensif berarti bersedia untuk diganggu dan digerakkan oleh situasi yang lain. Kita sedang berada dalam situasi kampanye Pilkada 2024 di negeri kita Biinmaffo tercinta. Kita harus selektif menjatuhkan pilihan pada kandidat yang sungguh mengabdi rakyat.