pendidikan

Kebijakan Sekolah Jam 5 Pagi Gubernur NTT, Jejaring Indonesia Bersurat ke Presiden

Selasa, 28 Februari 2023 | 07:09 WIB
Ilustrasi sekolah pagi

NTTHits.com, Kupang - Jejaring Indonesia yang diketuai mantan anggota DPR RI, Honing Sany membuat surat terbuka kepada Presiden, Jomo Widodo (Jokowi) terkait kebijakan mewajibkan siswa SMA-SMK memulai proses Kegiatan Bejalar Mengajar (KBM) pukul 05.00 Wita pagi.

Dalam surat itu, Forum Jejaring Indonesia memerintahkan kepada Gubernur NTT, selaku perwakilan pemerintahan Pusat di daerah untuk menghentikan program proses belajar mengajar yg dimulai jam 05.00 Wita untuk dikembalikan ke waktu yg berlaku umum selama ini di seluruh Indonesia yakni jam 07.00 Wita.

Terkait peningkatan kualitas pendidikan di NTT dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem pendidikan secara keseluruhan termasuk kualitas pengajar serta meningkatan fasilitas sekolah.

Baca Juga: Gunakan Narkoba Jenis Shabu, Pengusaha di Kota Kupang Ditangkap

Mereka juga memerintahkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI untuk segera turun ke Kupang dan melihat langsung keadaan yang terjadi serta memastikan program ini tidak dilanjutkan.

Permintan itu disampailan Jejaring Indonesia sehubungan adanya instruksi Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat terkait program perubahan jadwal masuk sekolah siswa SMA yang biasanya dimulai Pukul 07.00 Wita menjadi dimulai pada pukul 05.00 Wita dengan alasan untuk meningkatkan kualitas pendidikan siswa SMA di NTT.

Disebutkan, spirit untuk memajukan pendidikan adalah hal yang positif, namun memajukan jadwal sekolah pada pukul 05.00 pagi adalah keputusan yang terburu-buru, tidak masuk akal, belum pernah terjadi selama sejarah pendidikan baik di Indonesia maupun di dunia.

Baca Juga: Warga Digegerkan Penemuan Mayat Pria di Sungai Talau

Perubahan jadwal sekolah juga berdampak kepada perubahan semua pola kehidupan termasuk jadwal siswa-siswa bangun tidur, para guru harus lebih cepat meninggalkan rumah.

Keamanan dalam perjalanan karena sebelum jam 05.00 sudah harus meninggalkan rumah, sementara kendaraan umum sebagai moda transportasi belum beroperasi sehingga menyebabkan peningkatan biaya transport.

Para orang tua juga sangat kuatir dengan keamanan dan keselamatan anak-anak mereka karena harus meninggalkan rumah dalam situasi masih gelap terutama bagi anak-anak gadis.

Diakhir kalimat, Jejaring Indonesia berharap Presiden dan Menteri sesegera mungkin menghentikan program ini.***

Tags

Terkini